ANALISIS MANAJEMEN PROYEK PADA PT TELKOM INDONESIA TBK
ANALISIS
MANAJEMEN PROYEK PADA
PT
TELKOM INDONESIA TBK
Artika
Priananda, Ichsan Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu
P, Riski Serina Safitri
Manajemen
Proses Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana
Jl.
Meruya Selatan No.31, Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816
Abstrak
Manajemen Proyek
(project management) adalah proses pencapaian tujuan proyek (dalam hal
jadwal, anggaran, dan kinerja) melalui serangkaian aktivitas yang dimulai dan
diakhiri pada waktu tertentu dan memberikan hasil (deliverables) yang
dapat diukur dan memenuhi syarat. Berikut adalah fase dari siklus hidup
manajemen proyek seperti yang dijelaskan oleh PMBOK: Fase Inisiasi (initiation),
Fase Perencanaan (planning), Fase Pelaksanan (execution), Fase
Pengendalian (controlling), dan Fase Penutupan (closing).
Tujuan Sponsor proyek meninjau proyek dan seluruh pengujian telah
selesai. Fase ini juga memastikan praktik terbaik (best practice) telah
diketahui dan dapat dibagikan untuk proyek selanjutnya, serta mempraktikkan
perbaikan berkelanjutan pada tim proyek maupun personal. Sepanjang tahun 2020,
Komite Evaluasi dan Monitoring Perencanaan dan Risiko (KEMPR) Telkom telah
melakukan berbagai kegiatan yang terdiri dari : Rencana Jangka Panjang
Perseroan (RJPP) dan Corporate Strategic Scenario (CSS) antara lain : Penguatan
kapabilitas dalam rangka menahan penurunan legacy business dan meningkatkan
kinerja digital business, Revitalisasi portofolio bisnis dalam rangka adopsi
digital business, Koordinasi dan sinergi TelkomGroup terkait pengembangan
digital business.
Kata Kunci: Analisis, Manajemen, Proyek
1. PENDAHULUAN
Dalam buku A Guide to
The Project Management Body of Knowledge (PMBOK) Sixth Edition (Project
Management Institute, 2017) mendefinisikan proyek adalah sebuah usaha sementara
yang dilakukan untuk membuat suatu produk, layanan, atau hasil yang unik.
Proyek bersifat sementara yang mempunyai titik awal dan titik akhir yang telah
ditentukan. Sebuah proyek juga dapat dihentikan jika pelanggan ingin mengakhiri
proyek.
Manajemen proyek mutlak
dilakukan dalam pembangunan suatu proyek. Manajemen proyek adalah penerapan
pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan teknik pada keseluruhan kegiatan
proyek untuk memenuhi tujuan proyek (Project Management Institute, 2017).
Apabila perencanaan proyek kurang baik maka saat eksekusi proyek mengalami
banyak kekurangan sehingga dapat mengakibatkan penyelesaian proyek tidak tepat
waktu. Dampak lain yang ditimbulkan adalah biaya yang dikeluarkan lebih besar
dari rencana serta pengalokasian dan penggunaan tenaga kerja yang tidak
optimal.
PT Telkom Indonesia
(Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang
jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan
telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah
Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh
publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode
“TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.
Dalam upaya
bertransformasi menjadi digital telecommunication company, Telkom Group
mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang
berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan
membuat organisasi Telkom Group menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah)
dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung
sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.
2. LITERATUR TEORI
2.1 Pengertian Proyek
Berdasarkan City of Chandler (2010),
proyek (project) adalah kumpulan sementara individu-individu kunci (key
personnel) yang dirancang untuk mencapai tujuan bisnis tertentu dengan
memperhatikan kebutuhan pelanggan. Suatu proyek memiliki awal dan akhir. Tim
proyek akan bubar setelah tujuan proyek terpenuhi.
Proyek harus memiliki tujuan atau sasaran
yang jelas dan definitif. Tujuan proyek spesifik, dapat diidentifikasi, dan
dapat diselesaikan. Suatu proyek biasanya terdiri dari berbagai aktivitas yang
memberikan hasil (deliverables) yang dapat diukur dan memenuhi syarat.
Gabungan hasil-hasil dari berbagai aktivitas tersebut akan mencapai tujuan
proyek secara keseluruhan.
Berikut
adalah karakteristik kunci dari proyek:
·
Suatu proyek memiliki
batasan, sehingga ruang lingkupnya harus didefinisikan.
·
Suatu proyek adalah
upaya di suatu waktu tertentu, biasanya membutuhkan sumber daya yang terbatas.
·
Ada tanggal mulai dan
tanggal akhir yang berbeda untuk setiap proyek.
·
Akhir proyek dapat
diketahui.
Contoh
proyek yang sering ditemui:
·
Proyek konstruksi
Yaitu
proyek yang berhubungan dengan pembangunan rumah, gedung, jembatan, jalan raya,
jalan tol, dan sebagainya.
·
Proyek penelitian dan
pengembangan
Yaitu
melakukan penelitian dan pengembangan dengan tujuan menciptakan produk baru,
atau meningkatkan kualitas produk, atau hanya untuk pengembangan ilmu
pengetahuan saja.
·
Proyek industri
manufaktur
Yaitu
proyek yang melakukan rancangan untuk memproduksi suatu produk secara
menyeluruh.
·
Proyek padat modal
Yaitu
proyek yang memerlukan modal yang besar. Contohnya antara lain: pembebasan
tanah yang luas, pembangunan fasilitas produksi, proyek produksi besar dengan
bantuan mekanik (robot).
2.2 Pengertian Manajemen Proyek
Manajemen Proyek (project management)
adalah proses pencapaian tujuan proyek (dalam hal jadwal, anggaran, dan
kinerja) melalui serangkaian aktivitas yang dimulai dan diakhiri pada waktu
tertentu dan memberikan hasil (deliverables) yang dapat diukur dan
memenuhi syarat.
Manajemen proyek yang sukses adalah seni
menyatukan tugas, sumber daya, dan orang-orang yang diperlukan untuk mencapai
tujuan dan sasaran bisnis dalam batasan waktu yang ditentukan dan biaya
tertentu.
2.3
PMBOK dan Siklus Hidup Manajemen Proyek
Siklus Hidup Manajemen Proyek (project
management life cycle) adalah proses yang diikuti setiap manajer selama
umur proyek. Implementasi dan pengelolaan proyek dapat menggunakan siklus hidup
yang telah terbukti berhasil berdasarkan metode.
Project management body of knowledge
(PMBOK) adalah kumpulan pengetahuan khusus mengenai pengelolaan proyek yang
diterbitkan oleh Project Management Institute (PMI). Dalam PMBOK
dijelaskan bahwa setiap proyek memiliki suatu siklus hidup yang terdiri dari:
awal, kehidupan proyek, dan akhir (saat diasumsikan tujuan proyek telah
tercapai). Berikut adalah fase dari siklus hidup manajemen proyek seperti yang
dijelaskan oleh PMBOK:
A. Fase
Inisiasi (initiation)
B. Fase
Perencanaan (planning)
C. Fase
Pelaksanan (execution)
D. Fase
Pengendalian (controlling)
E. Fase
Penutupan (closing)
Ada 9 (sembilan) area pengetahuan (knowledge
area) dari manajemen proyek yang dijelaskan oleh PMBOK sebagai keahlian
yang dibutuhkan untuk seluruh manajer proyek, yaitu:
1. Manajemen
ruang lingkup (scope management)
2. Manajemen
komunikasi (communication management)
3. Manajemen
risiko (risk management)
4. Manajemen
sumber daya manusia (human resource management)
5. Manajemen
pengadaan (procurement management)
6. Manajemen
waktu (time management)
7. Manajemen
biaya (cost management)
8. Manajemen
kualitas (quality management)
9. Manajemen
integrasi (integration management)
Masing-masing area manajemen ini terdiri dari proses, alat,
dan teknik yang dihasilkan dan/atau diterapkan pada tingkat tertentu selama
pelaksanaan proyek. Ilustrasi berikut menggambarkan siklus hidup manajemen
proyek, area pengetahuan, dan proses yang digunakan.
2.4 Unsur – Unsur Manajemen Proyek yang Sukses
Berikut adalah
faktor-faktor yang menentukan kesuksesan proyek:
·
Tujuan dan sasaran yang
jelas.
·
Proses manajemen proyek
yang terdefinisi dengan baik.
·
Seperangkat alat
manajemen proyek yang telah terbukti berhasil.
·
Pemahaman yang jelas
tentang peran manajemen proyek.
2.5 Panduan Langkah Manajemen Proyek
A.
Fase Inisiasi
Tujuan
dari fase ini adalah untuk mengembangkan rencana dan penilaian risiko tingkat
tinggi (high level plan and risk assessment) untuk proyek yang diusulkan dan
menyiapkan informasi untuk portofolio menilai kelayakan strategis proyek.
Langkah Proses
1. Mewawancara
pelanggan untuk memahami visi strategis dan
tujuan pelanggan untuk mencapai visinya.
2. Melakukan
riset internal untuk meninjau dokumentasi,
mengembangkan grafik proses mengenai proses yang ada saat ini, dan mendapatkan
struktur organisasi.
3. Mengembangkan
solusi dan persyaratan, dapat melalui cara
berkonsultasi dengan ahli teknis sesuai kebutuhan. Selama fase ini, manajer
proyek terutama harus fokus pada pemahaman apa yang ingin dicapai oleh sponsor
proyek (project sponsor).
4. Meninjau
lesson learned dari proyek
sebelumnya yang tersimpan dalam repositori atau database proyek. Manajer
proyek harus meninjau lesson learned dari proyek sebelumnya untuk
membantu menilai risiko proyek, menjaga jadwal proyek, dan memahami area
potensial yang menjadi perhatian pada proyek terdahulu.
5. Meninjau
kebutuhanan pelanggan untuk mengidentifikasi
dan memahami syarat-syarat dari proyek. Manajer proyek (project manager)
harus menjadwalkan waktu dengan pemilik proyek (project owner) segera
setelah manajer proyek ditugaskan untuk meninjau proyek dan memahami harapan
pelanggan. Berdasarkan Daftar Periksa Penilaian Sponsor Proyek (Project
Sponsor Assessment Checklist), semua hasil proyek harus dikomunikasikan,
disepakati, dan didokumentasikan antara manajer proyek dan pemilik proyek.
Manajer proyek segera memberikan salinan risalah rapat yang mendokumentasikan
hasil yang disepakati.
6. Menentukan
peran dalam proyek. Untuk memiliki proyek
yang sukses, semua pemangku kepentingan proyek harus mengetahui dan memahami
peran mereka dalam proyek. Merupakan tanggung jawab manajer proyek untuk
mengkomunikasikan peran ini kepada pemangku kepentingan proyek.
a. Manajer
proyek (project manager) bertanggung
jawab untuk mengelola ruang lingkup, jadwal, dan biaya proyek untuk mendukung
harapan pemilik untuk keberhasilan penyelesaian proyek.
b. Pemilik
atau sponsor proyek (project owner
/ sponsor) harus merupakan direktur perusahaan atau pemimpin tingkat
tinggi dari departemen yang merupakan pemangku kepentingan terbesar dalam
proyek atau yang akan menerima manfaat terbesar dengan penyelesaian proyek yang
berhasil.
c. Anggota
tim proyek (project team members)
bertanggung jawab untuk memastikan bahwa:
·
Tanggung jawab tim
diidentifikasi dan direncanakan secara akurat.
·
Sumber daya tersedia
untuk mendukung anggaran dan jadwal.
·
Tersedianya informasi
yang akurat untuk status proyek.
·
Membantu manajer proyek
dalam penyelesaian masalah.
7. Mengumpulkan
tim inti proyek. Manajer proyek harus menentukan
keterampilan apa yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan proyek. Informasi
yang digunakan untuk menentukan siapa saja tim proyek berasal dari meninjau
kasus bisnis (business case), meninjau pelajaran (lesson learned)
dari proyek sebelumnya, dan mengidentifikasi persyaratan proyek.
8. Mengembangkan
Struktur Perincian Kerja Tingkat Tinggi
(high-level work breakdown structure/WBS). WBS tingkat tinggi
harus dikembangkan oleh manajer proyek untuk memulai definisi ruang lingkup
proyek. WBS adalah divisi hierarkis berorientasi produk dari elemen proyek yang
mengatur, mendefinisikan, dan menetapkan ruang lingkup keseluruhan proyek. WBS
ini akan mengidentifikasi semua hasil utama yang membentuk solusi total proyek.
9. Penilaian
risiko tingkat tinggi (high-level risk
assessment). Selama fase ini, manajer proyek harus mulai mengidentifikasi
risiko utama proyek. Setelah diidentifikasi, risiko utama proyek harus
dimasukkan dalam Piagam Proyek tingkat tinggi (high-level Project Charter)
yang diselesaikan selama fase ini. Beberapa contoh risiko tingkat tinggi:
perubahan ruang lingkup atau persyaratan proyek, jadwal atau anggaran yang
tidak realistis, kesalahan interpretasi, peran yang tidak jelas, staf yang
tidak terampil, ketersediaan staf, kriteria sukses yang tak terdefinisi.
Risiko
yang teridentifikasi akan dikelola ke dalam salah satu dari empat kategori
berikut:
·
Penghindaran risiko
(risk avoidance) dengan cara mengubah rencana proyek untuk menghilangkan
risiko atau kondisi atau untuk melindungi tujuan proyek dari dampak risiko
tersebut.
·
Pengalihan risiko
(risk transfer) adalah upaya untuk mengalihkan dampak risiko kepada
orang lain. Hal ini tidak menghilangkan risiko.
·
Penerimaan risiko
(risk acceptance) adalah memahami risiko dan menerima dampak jika risiko
itu terjadi. Sebagai contoh, manajer proyek menerima perpanjangan durasi proyek
karena keterbatasan sumber daya.
·
Mitigasi risiko
(risk mitigation) dengan mempersiapkan rencana mengenai tindakan yang
harus diambil sebelum risiko terjadi untuk meminimalkan dampak potensial.
Rencana kontingensi
(contingency plan) untuk suatu risiko adalah mengidentifikasi
langkah-langkah yang akan dicapai apabila strategi risiko diterapkan.
Langkah-langkah tersebut akan dimasukkan dalam jadwal proyek dan baseline
biaya.
10. Mengembangkan
perkiraan biaya. Manajer proyek dan manajer akun
harus menyatakan perkiraan biaya secara akurat. Tim proyek harus memperkirakan
waktu dan biaya pada tingkat terendah dari WBS tingkat tinggi (lowest level
of the high-level WBS) berdasarkan proyek serupa yang telah selesai, jika
tersedia, ditambah dengan lesson learned.
11. Mengembangkan
piagam proyek tingkat tinggi (high-level project
charter). Tujuan dari Piagam Proyek adalah untuk memberikan definisi yang
jelas dan konsisten tentang visi/misi, ruang lingkup dan tujuan proyek. Piagam
proyek berisi visi/misi, identifikasi pemilik, ruang lingkup, tujuan, asumsi,
kendala, waktu/milestone, biaya/anggaran, persyaratan kualitas, dan risiko
utama proyek.
12. Tinjauan
bersama dan pengesahan oleh pemilik proyek.
Manajer proyek bersama dengan pemilik proyek meninjau piagam proyek, WBS, dan
penilaian risiko tingkat tinggi. Pemilik proyek akan memberikan izin kepada
manajer proyek untuk melanjutkan ke tahap perencanaan untuk menyelesaikan piagam
proyek.
B.
Fase Perencanaan
Tujuan dari fase perencanaan adalah untuk memulai proyek baru
dan menetapkan rencana dan jadwal yang akurat. Infrastruktur yang dibangun
selama fase perencanaan sangat penting untuk mengelola keberhasilan proyek
secara efektif. Selama fase ini, tanggung jawab didelegasikan; komunikasi dan
pelaporan yang diharapkan akan dikembangkan dan disajikan kepada tim proyek.
Langkah Proses
1.
Melakukan Rapat
Perincian Rencana Tim Proyek dan Sesi Kerja.
Manajer proyek akan mengadakan pertemuan perincian rencana proyek setelah tim
proyek dibentuk. Tujuan utama dari pertemuan perincian rencana adalah untuk
memperkenalkan proyek dan meminta tim proyek untuk melanjutkan pekerjaan
menyelesaikan piagam proyek, yang telah dimulai sejak tahap penilaian peluang
dan fase inisiasi.
2. Mengembangkan
Rincian WBS. Proses ini bertujuan untuk
mengembangkan perincian WBS. Perincian ini akan menghasilkan dekomposisi lebih
lanjut dari tujuan proyek menjadi hasil (deliverables) yang harus
dicapai untuk berhasil menyelesaikan proyek.
3. Mengembangkan
Matriks Penanggung Jawab. Matriks Penanggung
Jawab adalah matriks yang berisi deskripsi hasil (deliverables) dari WBS
terperinci dengan masing-masing kode akun hasil (deliverables code of
account) dan pemilik proyek atau orang yang bertanggung jawab untuk
mengelola hasil tersebut. Matriks ini digunakan selama fase pelaksanaan dan
pengendalian proyek untuk menemukan, melacak, dan menetapkan status untuk
setiap hasil.
4. Mengembangkan
rencana komunikasi. Manajer proyek harus menjadi
titik pusat komunikasi untuk semua pertukaran informasi proyek. Selama inisiasi
proyek, penting untuk membangun jaringan komunikasi berdasarkan harapan pemilik
proyek untuk mecapai kesuksesan proyek. Berikut adalah komponen dari rencana
komunikasi :
·
Menetapkan teknologi
komunikasi.
·
Mengembangkan struktur
organisasi tim proyek.
·
Mengembangkan petunjuk
proyek.
·
Mengembangkan matriks
komunikasi.
·
Manajemen
pertemuan/rapat.
·
Manajemen masalah dan
tindak lanjut.
·
Pelaporan
status/keadaan.
·
Mempersiapkan dokumentasi
proyek.
5.
Penilaian risiko dan
perencanaan manajemen
·
Identifikasi risiko
dengan brainstorming kemungkinan ancaman proyek.
·
Penilaian kemungkinan
terjadinya risiko dan potensi dampak yang akan ditimbulkan apabila risiko
tersebut terjadi.
·
Mengembangkan rencana
manajemen risiko terperinci, termasuk strategi mitigasi dan rencana kontigensi.
·
Memperoleh persetujuan
atas rencana manajemen risiko dari pemilik proyek.
6.
Menentukan persyaratan
keterampilan sumber daya manusia. Proyek yang
sukses memerlukan tim yang didedikasikan untuk pencapaian suatu tujuan.
Manajemen proyek terdiri dari:
·
Pemilik/sponsor proyek
·
Manajer proyek
·
Asisten manajer proyek
· Project
office
· Tim
proyek
7.
Menjadwalkan persiapan.
Penjadwalan persiapan
proyek terdiri dari: menentukan kalender jadwal proyek, mengembangkan daftar
tugas, memperkirakan upaya yang diperlukan, menentukan urutan penyelesaian
tugas, dan sumber daya yang diperlukan.
8.
Mengembangkan
perencanaan manajemen biaya. Manajer proyek
bertanggung jawab untuk memantau biaya proyek terhadap perkembangan proyek dan
mengidentifikasi komponen biaya proyek.
9.
Mengukur mutu. Rencana
manajemen mutu menjelaskan bagaimana tim manajemen proyek akan menerapkan
kebijakan mutunya. Audit mutu akan dilakukan secara berkala sepanjang siklus
hidup proyek untuk memverifikasi proses dan prosedur patuh sesuai dengan
rencana (in compliance). Pertemuan peninjauan mutu dapat dijadwalkan
secara berkala untuk membuat penyesuaian perbaikan terhadap proyek.
10. Manajemen
pengadaan proyek. Manajer proyek
bertanggung jawab untuk memperoleh barang dan jasa dari pemasok luar. Sehingga
manajer proyek perlu membuat perencanaan pengadaan (procurement planning),
perencanaan permintaan (solicitation planning), administrasi kontrak (contract
administration), dan penutupan kontrak (contract close out).
11. Mendapatkan
Persetujuan Rencana Manajemen Komunikasi. Perlu
ada pertemuan antara manajer proyek dengan pemilik proyek untuk meninjau dan
menyetujui rencana manajemen komunikasi.
12. Finalisasi
piagam proyek. Setelah proposal awal dan perubahan
ruang lingkup proyek disetujui oleh pemilik proyek, piagram proyek telah
selesai dan ditandatangani oleh pemilik proyek.
13. Melakukan
tinjauan manajemen dengan pemilik proyek. Manajer
proyek akan bertemu dengan pemilik proyek untuk meninjau piagam proyek yang
telah selesai dan rencana proyek yang dikembangkan selama Fase Perencanaan.
Pemilik proyek harus memberikan persetujuan untuk melanjutkan ke Fase
Pelaksanaan dan Pengendalian.
14. Mengembangkan
Baseline. Baseline
adalah rencana jadwal awal, anggaran, dan rencana proyek yang disetujui
pemilik. Hal ini memungkinkan semua pemangku kepentingan untuk membandingkan
data proyek sebenarnya dengan baseline untuk menentukan apakah proyek
berada di jalur yang benar.
C.
Fase Pelaksanaan dan Pemantauan
Tujuan Penekanan dari fase pelaksanaan dan pemantauan adalah
untuk memastikan bahwa setiap hasil proyek mencapai hasil yang diinginkan,
dalam periode yang ditentukan, dalam biaya yang ditentukan, dan menggunakan
sumber daya yang dialokasikan.
Langkah Proses
1. Mengikuti
perkembangan proyek (tracking). Manajer
proyek harus memiliki cara yang efektif untuk memantau kemajuan proyek
dibandingkan dengan baseline. Agar tetap terlibat dalam semua fase
proyek, manajer proyek akan menetapkan strategi peninjauan proyek rutin dan
rencana komunikasi untuk memastikan kemajuan proyek terkini, akurat dan
konsisten.
2. Rapat
status proyek (status meeting). Rapat
status proyek harus diadakan oleh manajer proyek untuk meninjau jadwal dan
selisih anggaran, fokus pada pencapaian jangka pendek, mengatasi masalah apa
pun dan menetapkan tindak lanjut, serta mendapatkan dukungan untuk perubahan
ruang lingkup atau strategi yang diperlukan.
3. Manajemen
perubahan (change management). Masalah-masalah
yang muncul di sepanjang proyek dapat menyebabkan perubahan ruang lingkup
proyek. Pengusul perubahan akan mengajukan formulir permintaan perubahan
ruang lingkup (scope change request form) dan permintaannya dicatat
pada catatan permintaan perubahan ruang lingkup (scope change
request log). Selanjutnya, langkah manajemen perubahan yang dilakukan
sebagai berikut:
a. Mengevaluasi
permintaan perubahan ruang lingkup.
b. Menilai
dampak dari perubahan ruang lingkup.
c. Melaksanakan
tindakan perbaikan.
d. Meninjau
status dengan pemilik proyek.
e. Memperbarui
rencana dan jadwal proyek.
4. Mempertahankan
mutu (maintaining quality). Anggota
tim proyek dan ahli subjek masalah (subject matter expert’s/SME’s) akan
memberikan laporan kepada manajer proyek mengenai kepatuhan atau ketidakpatuhan
(compliance or noncompliance) terhadap rencana mutu atau ekspektasi,
spesifikasi, dan prosedur mutu. Ketika mutu tidak dapat diterima, manajer
proyek akan melakukan intervensi sesuai kebutuhan.
5. Dokumentasi
proyek (project documentation). Selama
proyek berjalan, manajer proyek akan menghasilkan laporan yang berkaitan dengan
masalah mutu dan kesesuaian. Di samping itu, manajer proyek juga akan
mengembangkan lesson learned untuk ditempatkan di repositori.
6. Memfasilitasi
rapat tinjauan dengan eksekutif perusahaan (executive review meeting
facilitation). Rapat/presentasi
tinjauan eksekutif mungkin perlu dilakukan setiap bulan. Rapat ini merupakan
salah satu cara paling informatif bagi manajemen tingkat tinggi perusahaan
untuk meninjau kemajuan dan status keseluruhan program/proyek perusahaan.
7. Memantau
dan mengendalikan risiko proyek. Pengendalian
risiko adalah proses terus-menerus memahami kondisi proyek dan mengembangkan
pilihan-pilihan dan posisi mundur untuk memungkinkan alternatif solusi berisiko
rendah. Memperbarui rencana manajemen risiko secara berkelanjutan merupakan
langkah penting dalam penghindaran risiko dan pengendalian risiko.
8. Mengelola
dan menyelesaikan masalah sumber daya manusia. Karena
sifat sementara dari proyek, anggota tim mungkin mengalami konflik dalam
organisasi fungsional mereka dalam hal waktu, konflik pribadi di antara tim,
dan konflik terkait dengan pertumbuhan industri yang luar biasa. Manajer proyek
harus bekerja secara proaktif dengan tim proyek dalam upaya untuk menghindari
konflik. Banyak konflik dapat dikurangi atau dihilangkan dengan komunikasi yang
terus-menerus kepada anggota tim proyek mengenai tujuan-tujuan proyek.
9. Menyesuaikan
jadwal. Manajer proyek harus memperbarui alat
penjadwalan dan rencana proyek mereka setiap minggu. Tujuannya adalah untuk
memberikan informasi yang cukup dan akurat untuk membandingkan status proyek
saat ini terhadap target yang direncanakan.
10. Memproses
proyek bermasalah. Proyek bermasalah
adalah setiap proyek yang terlambat dari jadwal dan/atau melebihi anggaran
dan/atau tidak memenuhi persyaratan pelanggan. Tujuan pertama dari memproses
proyek bermasalah adalah memberikan panduan dalam mengidentifikasi gejala yang
menunjukkan bahwa proyek sedang menuju, atau dalam masalah. Tujuan kedua adalah
menguraikan proses untuk membawa proyek bermasalah kembali ke jalurnya.
11. Memperoleh
persetujuan dan penerimaan dari sponsor proyek sebelum ke fase berikutnya.
12. Melakukan
tinjauan proyek sementara dengan pemilik. Manajer
proyek perlu mengatur pertemuan dengan pemilik proyek secara berkala
untuk meninjau jadwal proyek, dokumen tracking, dan laporan secara
rinci. Mengelola harapan sponsor proyek adalah aktivitas paling penting bagi
manajer proyek. Saat proyek hampir selesai, semua masalah akan mulai muncul ke
permukaan dan manajer proyek mungkin menyajikan berita buruk mengenai waktu,
biaya, atau mutu. Jika harapan sponsor proyek telah dikelola dengan baik
sepanjang siklus hidup proyek, maka penutupan proyek akan jauh lebih mudah.
D.
Fase Penutupan Proyek
Tujuan Sponsor proyek meninjau proyek dan
seluruh pengujian telah selesai. Fase ini juga memastikan praktik terbaik (best
practice) telah diketahui dan dapat dibagikan untuk proyek selanjutnya, serta
mempraktikkan perbaikan berkelanjutan pada tim proyek maupun personal.
Langkah Proses
1. Administrasi
penutupan proyek. Yang termasuk dalam
proses ini adalah: menutup semua kontrak pengadaan, mencocokkan faktur pemasok
dengan pembayaran, melakukan tinjauan kinerja untuk anggota tim proyek dan
mendapatkan tanda tangan pemilik/sponsor proyek untuk mengonfirmasi penyelesaian
proyek.
2. Survei
peserta proyek. Memperoleh umpan balik dari peserta
proyek sangat penting untuk memastikan dan mengukur keberhasilan atau kegagalan
proyek. Gunakan informasi terkumpul untuk merangkum seberapa baik proyek
memenuhi tujuan dan harapan yang ditentukan dalam piagam proyek.
3. Melakukan
tinjauan pasca implementasi. Pertemuan pasca
implementasi dan/atau dokumentasi studi kasus penting untuk menangkap lesson
learned guna membantu mengarahkan proyek masa depan dari perangkap proyek
bermasalah. Masukan pelanggan serta kesan anggota tim proyek dapat menjadi
materi sumber daya yang berharga dalam pemahaman dan perbaikan proses manajemen
proyek.
4. Mengembangkan
lesson learned. Manajer proyek
bertanggung jawab untuk mengembangkan lesson learned untuk proyek dengan
bantuan tim dan pemilik proyek. Ringkasan lengkap dari semua aktivitas penutup
harus digunakan untuk mengembangkan ringkasan lesson learned yang
komprehensif.
5. Mengirim
dokumentasi ke repositori (gudang). Setelah
manajer proyek menyelesaikan penutupan proyek secara administratif dan
mengembangkan lesson learned dari proyek, semua informasi proyek harus
dikirim ke repositori untuk referensi di masa mendatang apabila diperlukan.
Informasi ini akan digunakan pada proyek-proyek masa depan untuk membantu
manajer proyek lain dan anggota tim dengan menghilangkan masalah yang pernah
dihadapi sebelumnya.
6. Menyelenggarakan
perayaan proyek. Jika proyek telah
berhasil, manajer proyek harus mengadakan perayaan untuk tim proyek. Perayaan
bertujuan untuk menumbuhkan budaya berorientasi tim yang pada akhirnya mencapai
kesuksesan pada proyek masa depan. Manajer proyek dapat mempertimbangkan untuk
memberikan penghargaan kepada anggota tim proyek yang berprestasi
3. PEMBAHASAN
3.1 Perbandingan Target PT Telkom Indonesia Tbk
Hingga akhir tahun 2020, Telkom mengalami
pertumbuhan pendapatan sebesar 0,7% menjadi Rp136.462 miliar dibandingkan
dengan tahun periode pelaporan sebelumnya. EBITDA Telkom tercatat sebesar
Rp72.080 miliar dan Laba Bersih sebesar Rp20.804 miliar. Kemudian, margin
EBITDA dan margin Laba Bersih masing-masing tercatat sebesar 52,8% dan 15,2%.
Dalam
rangka merealisasikan strategi bisnis untuk memperkuat bisnis digital, Telkom
menggunakan Rp29.436 miliar untuk belanja modal selama tahun 2020. Jumlah
tersebut mencapai 21,6% dari total pendapatan.
|
Indikator |
Realisasi Tahun 2020 |
Target pada Awal Tahun 2020 |
|
Pertumbuhan Pendapatan |
Pendapatan tumbuh sebesar 0,7%. |
Dengan dampak COVID-19, kami memperkirakan Perusahaan masih bisa
mencetak sedikit pertumbuhan positif, dimana IndiHome kami yakini tumbuh
double digit, segmen Mobile melalui Telkomsel akan mencetak pertumbuhan
single digit, namun segmen Enterprise akan kembali mengalami tekanan. |
|
Margin EBITDA dan Margin Net Income |
Margin EBITDA naik menjadi 52,8% sedangkan Margin Net Income naik
menjadi 15,2%. |
Margin EBITDA dan Margin Net Income diproyeksikan sedikit menurun
sejalan dengan pembangunan infrastruktur broadband, baik untuk mobile maupun
seluler, disertai peningkatan porsi pendapatan dari bisnis digital |
|
Belanja Modal |
Realisasi belanja modal sebesar Rp29.436 miliar atau 21,6% dari
pendapatan dengan fokus investasi pada infrastruktur bisnis digital. |
Belanja modal direncanakan sekitar 25% dari pendapatan dengan fokus
investasi pada infrastruktur bisnis digital. |
3.2 Target atau Proyeksi PT Telkom Indonesia Tbk
TelkomGroup
saat ini terus berupaya mencapai pertumbuhan Perusahaan yang berkelanjutan
sesuai dengan Framework 2021-2025 sebagai landasan strategi korporasi yang
menekankan pada pengembangan tiga pilar utama, yaitu digital connectivity,
digital platform, dan digital services. Ketiga pilar tersebut menjadi value
proposition atau portfolio direction dengan didukung oleh tujuh pilar lainnya
sebagai delivery direction. Ketujuh pilar tersebut yaitu optimalisasi portofolio,
teknologi, organisasi, sinergi dan keunggulan operasional, individu dan budaya
Perusahaan, inorganic, serta tata kelola.
Pada tahun
2021, dengan pertumbuhan yang sangat baik, IndiHome sebagai salah satu produk
dan layanan digital unggulan dapat meningkatkan kontribusinya pada pendapatan
TelkomGroup. Ke depan, IndiHome diharapkan terus tumbuh dan menopang pendapatan
dari produk dan layanan legacy TelkomGroup yang menurun seiring dengan
transformasi masyarakat menuju digitalisasi. Dominasi Telkom dalam pasar
seluler saat ini diharapkan mendukung hal tersebut.
Dalam
mewujudkan transformasi tersebut, TelkomGroup akan terus membangun
infrastruktur broadband baik segmen seluler maupun segmen fixed-line. Dengan
alokasi capital expenditure sekitar 24-27% dari pendapatan untuk infrastruktur
pada tahun yang akan datang, TelkomGroup diharapkan dapat meningkatkan
pemasaran, pendapatan, produksi, dan laba Perusahaan.
|
Indikator |
Target Tahun 2021 |
|
Pertumbuhan Pendapatan |
Dampak dari pandemi COVID-19 kami perkirakan masih akan memengaruhi
Perusahaan terutama pada paruh pertama. Secara keseluruhan Perusahaan
diharapkan dapat tumbuh positif pada kisaran low to mid single digit. |
|
Margin EBITDA dan Margin Net Income |
Margin EBITDA dan Margin Net Income diproyeksikan sedikit mengalami
penurunan sejalan dengan penurunan bisnis legacy yang beralih ke bisnis
digital. |
|
Belanja Modal |
Sekitar 24%-27% dari pendapatan kami rencanakan untuk belanja modal
dengan fokus membangun infrastruktur bisnis digital. |
3.3
Siklus
Manajemen Proyek
A.
Fase Inisiasi
Tujuan dari fase ini adalah untuk
mengembangkan rencana dan penilaian risiko tingkat tinggi (high level plan and
risk assessment) untuk proyek yang diusulkan dan menyiapkan informasi untuk
portofolio menilai kelayakan strategis proyek.
Penilaian Risiko
·
Telkom
memiliki beberapa pertimbangan dalam menyusun kebijakan akuntansi seperti
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Interpretasi Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (ISAK), International Accounting Standards (IAS), Undang-Undang
yang terkait, dan perubahan lingkungan internal yang berdampak.
·
Telkom
memiliki prinsip asersi keuangan dalam perencanaan ICOFR yang diperhatikan
dengan baik oleh semua karyawan yang terkait.
·
Telkom
mengelola risiko Perusahaan yang muncul baik internal maupun eksternal dengan
mekanisme yang telah ditentukan.
·
Telkom
juga menerapkan sistem pengendalian kebijakan anti fraud dan memiliki
pencegahan potensi fraud.
B.
Fase
Perencanaan
Di tahun 2021, Telkom telah mencanangkan Corporate
Theme 2021 yaitu Strengthen Business Health and Accelerate Digital
Transformation to Smartly Cope With Changing Customer Behaviour. Terdapat 3
program utama yang akan dijalankan yaitu:
1.
Accelerate
transformation to lead in digital space and get stronger customer engagement,
dimana perusa- haan akan mempercepat transformasi digital untuk mendapatkan
keterlibatan customer yang lebih kuat.
2.
Drive cost leadership
and CAPEX efficiency underpinned by innovative operating model, dimana
Perusahaan akan terus berinovasi untuk menekan biaya maupun CAPEX dengan tetap
menjaga efektivitas dan efisiensi usaha.
3.
Leverage and unlock
group potential to increase cor- porate value, untuk mendorong anak-anak usaha
Tel- komGroup untuk selalu meningkatkan valuasinya den- gan melakukan go public
atau mencari mitra strategis.
Perusahaan berkomitmen untuk menjalankan 3 program utama di atas dengan
harapan didukung oleh kondisi perekonomian yang berangsur membaik di tahun
2021, meskipun dampak pandemi mungkin masih berlanjut untuk sementara waktu.
Telkom berharap dapat mempercepat transformasi menjadi digital telco company
pilihan masyarakat dan dapat memberikan pengalaman pelanggan yang lebih
baik yang pada akhirnya mendukung terciptanya nilai Perusahaan yang lebih baik.
C.
Fase
Pelaksanaan dan Pemantauan
Dalam
pelaksanaannya SPI yang diterapkan Telkom sejalan dengan Internal
Control-Integrated Framework 2013 dari The Committee of Sponsoring
Organizations of the Treadway Commission (COSO). Salah satu upaya Telkom untuk
menjalankan kerangka tersebut yaitu komitmen untuk selalu memastikan bahwa
kebijakan, kepatuhan Perusahaan dan seluruh aktivitas bisnis dilakukan sesuai.
Kelima komponen tersebut telah diterapkan dan
diaplikasikan ke dalam kebijakan-kebijakan Telkom, di antaranya sebagai
berikut:
Penerapan Pengendalian Internal Di Telkom
Lingkungan Pengendalian
·
Telkom berkomitmen
terhadap integritas dan nilai-nilai etis dengan membangun dan menetapkan budaya
Perusahaan sebagai panduan bagi para pemegang peran utama dalam membangun pola
kepemimpinan dan memperkuat sinergi organisasi, sebagai mesin pertumbuhan
ekonomi, akselerator kesejahteraan sosial, penyedia lapangan kerja, dan
penyedia talenta high performing culture. Telkom menjamin sustainability
competitive growth berupa pencapaian kinerja unggul jangka panjang. Core Values
AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) merupakan
nilai utama sumber daya manusia BUMN yang harus diadopsi oleh TelkomGroup agar
setiap sumber daya TelkomGroup mengetahui, mengimplementasikan, dan
menginternalisasikan secara sungguh-sungguh, konsisten, dan konsekuen, sehingga
melahirkan perilaku keseharian yang membentuk budaya kerja TelkomGroup yang
selaras dengan Core Values BUMN.
·
Telkom memastikan
efektivitas penyelenggaraan aktivitas Internal Audit yang dilaksanakan dengan
mengimplementasikan prasyarat SOA 302/404 dan dikelola dengan pendekatan risk
based audit. Telkom juga memastikan terselenggaranya koordinasi dan kerja sama
yang efektif dengan pihak internal maupun pihak eksternal, serta risiko bisnis
pada seluruh aktivitas bisnis telah dikelola secara memadai dengan sistem
internal control.
·
Telkom memiliki
Direktori Kompetensi yang menetapkan kebutuhan kompetensi Perusahaan. Salah satunya
yaitu Stream Finance yang meliputi kompetensi Corporate Finance dengan sub area
kompetensi Capital Structure dan Working Capital Management (Treasury
Management). Kemudian, Accounting dengan sub area kompetensi Financial
Accounting, Management Accounting dan Corporate Tax. Kebijakan pengembangan
kompetensi ditujukan untuk menciptakan karyawan yang unggul, berkualitas
global, dan berdaya saing tinggi.
Penilaian
Risiko
·
Telkom memiliki
beberapa pertimbangan dalam menyusun kebijakan akuntansi seperti Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK), International Accounting Standards (IAS), Undang-Undang yang
terkait, dan perubahan lingkungan internal yang berdampak.
·
Telkom memiliki
prinsip asersi keuangan dalam perencanaan ICOFR yang diperhatikan dengan baik
oleh semua karyawan yang terkait.
·
Telkom mengelola
risiko Perusahaan yang muncul baik internal maupun eksternal dengan mekanisme
yang telah ditentukan.
·
Telkom juga
menerapkan sistem pengendalian kebijakan anti fraud dan memiliki pencegahan
potensi fraud.
Aktivitas Pengendalian
·
Telkom menetapkan BPO
(Business Process Owner) dan AO (Application Owner) yang memiliki tugas dan
tanggung jawab terkait ICOFR.
·
Kaidah penentuan
risiko dan pengendalian internal mengacu pada kebijakan ICOFR yang terdiri dari
segregation of duties, penentuan risiko, dan penentuan pengendalian internal.
·
Telkom memiliki
pedoman penerapan sekuriti sistem informasi yang selaras dengan kebutuhan
Perusahaan dan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
Informasi dan Komunikasi.
·
Telkom memiliki
kebijakan akuntansi yang diterapkan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di
Indonesia dan IFRS, yang diuraikan berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi dan
penerapan, termasuk informasi atau data yang terkait dalam proses dan
pengungkapan pelaporan keuangan, serta mengatur tentang komponen laporan
keuangan konsolidasian.
·
Telkom memiliki
kebijakan teknologi informasi yang memberikan kerangka acuan bagi setiap proses
maupun unit yang terkait dengan penyelenggaraan TI Perusahaan dalam penyusunan
dan penetapan petunjuk pelaksanaan dan prosedur. Ruang lingkup peraturan TI di
Perusahaan Telkom mencakup aspek TI governance dan TI management.
Aktivitas Pemantauan
·
Telkom memiliki
Internal Audit Charter yang mencakup persyaratan auditor di unit Internal
Audit, yaitu memiliki integritas dan perilaku yang profesional, pengetahuan
tentang risiko dan pengendalian yang penting di bidang teknologi informasi,
pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal.
·
CEO Telkom senantiasa
meningkatkan awareness dari management terkait audit maupun change management
dalam bentuk CEO Notes dan menetapkan Integrated Audit, serta membentuk Probis
IFRS.
Untuk
meningkatkan kualitas Sistem Pengendalian Internal, Telkom rutin melakukan
penilaian terkait penerapan SPI dalam Perusahaan. Pada tahun 2020, Telkom telah
melakukan penilaian atas pelaksanaan SPI. Proses penilaian ini sejalan dengan
Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Pasal 26 Ayat 2 Tahun 2011 mengenai
Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) Pada BUMN. Hasil penilaian SPI
menyatakan bahwa efektivitas Sistem Pengendalian Internal Telkom adalah
Efektif.
D.
Fase Penutupan Proyek
Tujuan Sponsor proyek meninjau proyek dan
seluruh pengujian telah selesai. Fase ini juga memastikan praktik terbaik (best
practice) telah diketahui dan dapat dibagikan untuk proyek selanjutnya, serta
mempraktikkan perbaikan berkelanjutan pada tim proyek maupun personal.
Sepanjang
tahun 2020, Komite Evaluasi dan Monitoring Perencanaan dan Risiko (KEMPR)
Telkom telah melakukan berbagai kegiatan yang terdiri dari:
1.
Rencana
Jangka Panjang Perseroan (RJPP) dan Corporate Strategic Scenario (CSS)
a.
Evaluasi
RJPP dan CSS 2020-2024
·
Penguatan
kapabilitas dalam rangka menahan penurunan legacy business dan meningkatkan
kinerja digital business.
·
Revitalisasi
portofolio bisnis dalam rangka adopsi digital business.
·
Koordinasi
dan sinergi TelkomGroup terkait pengembangan digital business.
b.
Penyusunan
CSS 2021-2025 Fokus KEMPR dalam penyusunan CSS 2021-2025 antara lain mengenai:
·
Transformasi
organisasi dan bisnis untuk mendukung bisnis digital Perseroan.
·
Penajaman
strategi tiga pilar bisnis digital yaitu digital connectivity, digital platform
dan digital service. • Penguatan orkestrasi dalam TelkomGroup untuk membangun
digital business ecosystem.
·
Mengkaji
peluang unlock value pada portfolio bisnis yang potensial.
2.
Rencana
Kerja dan Anggaran Perseroan, serta Belanja Modal
a.
Fokus
Pemantauan RKAP dan Belanja Modal 2020
·
Menjaga
sustainability bisnis Perseroan di tengah pandemi COVID-19.
·
Peningkatan
kinerja Anak Perusahaan termasuk turn-around kinerja Anak Perusahaan yang
bermasalah.
·
Peningkatan
efisiensi dan efektivitas capex serta meningkatkan pemanfaatan capex untuk
mendukung peluang-peluang bisnis baru yang muncul seiring dengan pandemi
COVID-19.
b.
Evaluasi
Usulan RKAP dan Belanja Modal 2021 Evaluasi usulan RKAP dan belanja modal tahun
2021 antara lain mengenai:
·
Peningkatan
penetrasi, quality of sales dan customer experience pada bisnis IndiHome.
·
Pemanfaatan
peluang-peluang bisnis digital terutama pada lingkup bisnis enterprise.
·
Optimalisasi
pemanfaatan capex dalam mendukung digital business transformation dengan tetap
memperhatikan capex healthiness dan profitability.
3.
Manajemen
Risiko Perseroan (Enterprise Risk Management/ ERM) Berdasarkan pemantauan atas
profil risiko Perseroan, terdapat tiga hal yang mendapatkan perhatian, yaitu:
a.
Implementasi
Manajemen risiko baik pada lingkup Perusahaan maupun pada proyek-proyek
strategis.
b.
Peningkatan
kapasitas dan kompetensi organisasi pengelola ERM di Perseroan.
c.
Peningkatan
kualitas implementasi ERM pada Anak- Anak Perusahaan.
4.
Tindakan
Tertentu Direksi yang Memerlukan Persetujuan Dewan Komisaris
Selama tahun 2020 KEMPR telah membantu
Dewan Komisaris dalam menelaah usulan-usulan rencana strategis yang disampaikan
oleh Direksi, diantaranya project-project sebagai berikut: Golden, MDI 500,
Tiger, Reunion, dan Subsidiary Streamlining.
4. KESIMPULAN
Manajemen Proyek (project
management) adalah proses pencapaian tujuan proyek (dalam hal jadwal,
anggaran, dan kinerja) melalui serangkaian aktivitas yang dimulai dan diakhiri
pada waktu tertentu dan memberikan hasil (deliverables) yang dapat
diukur dan memenuhi syarat. Berikut adalah fase dari siklus hidup manajemen
proyek seperti yang dijelaskan oleh PMBOK: Fase Inisiasi (initiation), Fase
Perencanaan (planning), Fase Pelaksanan (execution), Fase
Pengendalian (controlling), dan Fase Penutupan (closing).
TelkomGroup saat ini terus berupaya
mencapai pertumbuhan Perusahaan yang berkelanjutan sesuai dengan Framework
2021-2025 sebagai landasan strategi korporasi yang menekankan pada pengembangan
tiga pilar utama, yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital
services. Ketiga pilar tersebut menjadi value proposition atau portfolio
direction dengan didukung oleh tujuh pilar lainnya sebagai delivery direction.
Ketujuh pilar tersebut yaitu optimalisasi portofolio, teknologi, organisasi,
sinergi dan keunggulan operasional, individu dan budaya Perusahaan, inorganic,
serta tata kelola.
DAFTAR PUSTAKA
Manajemen Proyek PT Telkom Indonesia
Tbk. (t.thn.).
Dipetik Oktober 2021, dari repository.telkomuniversity.ac.id:
https://repository.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/146201/bab1/perancangan-quality-metric-untuk-control-quality-menggunakan-metode-internal-control-pada-proyek-revitalisasi-fiber-termination-management-ftm-pt-telkom-indonesia.pdf
Gie.
(2020, Februari 24). Manajemen Proyek : Pengertian, Tujuan, Sasaran, Ruang
Lingkup, dan Contohnya. Dipetik Oktober 2021, dari accurate.id:
https://accurate.id/marketing-manajemen/pengertian-manajemen-proyek/
Edisi
Proyek, Manajemen Proyek dan 6 Prinsipnya. (2021, Agustus 3). Dipetik Oktober 2021, dari
tomps.id: https://tomps.id/definisi-proyek-manajemen-proyek-dan-6-prinsipnya/
Putra, Y. M., (2021). Manajemen
Proyek. Modul Kuliah Manajemen Proses Bisnis. Jakarta: FEB-Universitas
Mercu Buana.
Vidianto, A. S., & Haji, W. H. (2020).
Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Kanban (Studi Kasus: PT.
XYZ). Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK), 7(2).
Darmawan, D., & Ratnasari, A. (2020). Rancang
Bangun Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Web Pada PT Seatech
Infosys. Jurnal Sisfokom (Sistem Informasi dan Komputer), 9(3),
365-372.
Nugroho, A., & Kusumah, L.H. (2021).
Analisis Pelaksanaan Quality Control untuk Mengurangi Defect Produk di
Perusahaan Pengolahan Daging Sapi Wagyu dengan Pendekatan Six Sigma. Jurnal
Manajemen Teknologi 20 (1), 56-78.
Saryanto, S., Purba, H., & Trimarjoko,
A. (2020). Improve quality remanufacturing welding and machining process in
Indonesia using six sigma methods. J. Eur. SystèMes Autom, 53,
377-384.
Komentar
Posting Komentar