ANALISIS MANAJEMEN KOMUNIKASI & MANAJEMEN RESIKO PADA MANAJEMEN PROYEK PADA PT TELKOM INDONESIA TBK
ANALISIS MANAJEMEN KOMUNIKASI & MANAJEMEN RESIKO PADA MANAJEMEN PROYEK PADA PT TELKOM INDONESIA TBK
Artika Priananda, Ichsan
Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu P, Riski Serina Safitri
Manajemen Proses Bisnis,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana
Jl. Meruya Selatan No.31,
Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816
Abstrak
Dalam upaya bertransformasi menjadi digital telecommunication company,
Telkom Group mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan
yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut
akan membuat organisasi Telkom Group menjadi lebih lean (ramping) dan agile
(lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang
berlangsung sangat cepat.
Memahami dan mengerti kebutuhan serta
ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian penting dari pengelolaan GCG
untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi pemangku kepentingan. Melalui
budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen berusaha untuk menumbuhkan tata
nilai dan budaya Perusahaan dengan cara pemahaman dikalangan karyawan akan
nilai-nilai yang harus senantiasa disampaikan kepada semua pemangku kepentingan
dan menjadikannya sebagai pusat inspirasi termasuk norma dan prinsip-prinsip
tata kelola perusahaan.
Saat ini implementasi manajemen risiko telah mencapai tingkatan dimana
manajemen risiko telah diintegrasikan di seluruh entitas Perusahaan.
Kata Kunci: Manajemen, Manajemen Komunikasi,
Manajemen Resiko
1. PENDAHULUAN
PT Telkom Indonesia
(Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang
jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan
telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah
Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh
publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode
“TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.
Dalam upaya
bertransformasi menjadi digital telecommunication company, Telkom Group
mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang
berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan
membuat organisasi Telkom Group menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah)
dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung
sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.
2. LITERATUR TEORI
2.1
Definisi
Manajemen Komunikasi Proyek
Manajemen komunikasi
proyek adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang manajer proyek dengan tujuan utama adalah agar adanya jaminan bahwa semua
informasi mengenai proyek akan sampai tepat pada waktunya, dibuat dengan tepat,
dikumpulkan, dibagikan, disimpan dan diatur dengan tepat pula.
Arti penting komunikasi dalam proyek
·
Komunikasi
yang buruk dapat menyumbang angka kegagalan pada sebuah proyek
·
Hasil
riset menunjukkan bahwa banyak professional TI tidak mampu melakukan komunikasi
yang baik
·
Budaya
kita tidak menempatkan professional TI sebagai komunikator yang baik
2.2 Tahapan Manajemen Komunikasi Proyek
1) Perencanaan komunikasi
-> menentukan informasi dan komunikasi kebutuhan para pemangku kepentingan.
Perencanaan komunikasi juga merupakan proses yang sangat penting dalam proyek,
mengingat seringnya kegagalan proyek terkait dengan kegagalan komunikasi, dan
membuat analisis stakeholder untuk komunikasi proyek juga membantu
dalam perencanaan komunikasi.
Isi rencana manajemen
komunikasi :
·
Kebutuhan komunikasi stakeholder
·
Informasi yang akan dikomunikasikan termasukformat, konten dan tingkat rincian
·
Orang-orang
yang terlibat
·
Metode dan teknologi yang digunakan dalampenyampaian informasi
·
Jadwal penyampaian informasi
·
Metode untuk memperoleh informasi
·
Metode penyampaian komunikasi terkait progress kerja
·
Metode penyelesaian masalah
·
Daftar istilah/terminologi
2) Distribusi informasi -> membuat
informasi yang diperlukan tersedia untuk para pemangku kepentingan proyek tepat
pada waktunya. Dalam proses distribusi informasi, diperlukan cara yang tepat,
orang yang tepat, waktu yang tepat dan format yang berguna, termasukdalam
menggunakan teknologi untuk meningkatkan distribusi informasi serta metode
formal maupun informal.
Beberapa hal penting dalam melakukan distribusi informasi:
·
Penggunaan
teknologi
·
Cara
formal atau informal
·
Penanganan
informasi yang sangat penting agar dapat didistribusikan dengan efektif dan
tepat waktu
·
Memilih
media yang cocok untuk berkomunikasi
·
Pemahaman
akan teknik komunikasi individual atau berkelompok
·
Teknik
menyampaikan berita “buruk”
·
Pengaturan
jumlah jalur komunikasi
3) Pelaporan kinerja -> pengumpulan
dan penyebaran informasi kinerja, termasuk laporan, proses pengukuran, dan
perencanaan. Pelaporan kinerja juga merupakan mekanisme penyampaian informasi
terkait hasilkerja yang sudah dicapai, termasuk didalamnyaadalah penggunaan
sumber daya (manusia, anggaran, waktu) untuk mencapai tujuan proyek.
Yang termasuk dalam pelaporan kinerja antaralain
:
·
Laporan status
-> menjelaskan di mana proyek berdiri di titik tertentu dalam waktu
·
Laporan kemajuan
-> menjelaskan apa yang telah dilakukan tim proyek selama kurun
waktu tertentu
·
Perkiraan
-> memperkirakan status dan kemajuan proyek masa depan berdasarkan
informasi terakhir dan trend
4) Mengelola stakeholders
-> mengelola komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan dari
stakeholder proyek dan untuk menyelesaikan masalah. Manajer Proyek harus
memahami dan bekerja dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Perlu
merancang suatu cara untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.
Dua alat penting
termasuk :
·
Matriks
manajemen harapan
·
Catatan
isu
Saran manajemen komunikasi
proyek, dan dengan adanya peningkatan komunikasi menjadikan suatu proyek dapat
mengelola konflik secara efektif, mengembangkan keterampilan komunikasi yang
lebih baik, jalankan rapat yang efektif, gunakan e-mail secara efektif, dan
gunakan template untuk komunikasi proyek.
2.3
Saran Peningkatan Komunikasi
1) Kelola
konflik secara efektif
2) Kembangkan
keterampilan komunikasi yang lebih baik
3) Jalankan
rapat yang efektif
4) Gunakan
e-mail secara efektif
5) Gunakan
template untuk komunikasi proyek
2.4
Penanganan
Konflik
1)
Konfrontasi
-> Menghadapi konflik dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah
2)
Kompromi
-> Menggunakan pendekatan memberikan dan mengambil
3)
Memperlancar
-> Menekankan pada perbedaan dan kesepakatan
4)
Memaksa
-> Menekankan pada pendekatan menang kalah
5)
Penarikan
-> Menarik dari ketidaksetujuan aktual atau potensial
2.5 Mengatur Kebutuhan Rapat Secara Efektif
1) Menentukan apakah rapat dapat dihindari
2) Tetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan dari rapat
3) Menentukan siapa yang akan menghadiri rapat
4) Memberikan agenda untuk peserta sebelum rapat
5) Mempersiapkan materi dan bantuan visual, dan membuat persiapan logistik
sebelumnya
6) Jalankan rapat secara profesional
7) Membangun hubungan
2.6 Mengembangkan Infrastruktur Komunikasi
Sebuah
infrastruktur komunikasi adalah satu set alat, teknik, dan prinsip-prinsip yang
menyediakan sebuah dasar yang efektif untuk transfer informasi, diantaranya
:
1) Peralatan termasuk e-mail, perangkat lunak manajemen proyek, groupware,
mesin fax, telepon, teleconferencing system, sistem manajemen dokumen, dan
pengolah kata.
2) Teknik termasuk pelaporan panduan dan template, peraturan dan prosedur
pertemuan dasar, proses pengambilan keputusan, pendekatan pemecahan masalah,
dan resolusi konflik dan teknik negosiasi.
3) Prinsip-prinsip termasuk menggunakan dan membuka dialog yang telah
disepakati etika kerja.
2.7 Beberapa Saran Dalam Manajemen Komunikasi
1) Gunakan keterampilan berkomunikasi (khususnya dalam
menangani konflik)
2) Selalu berusaha untuk mengembangkan keterampilan
berkomunikasi
3) Lakukan rapat dengan efektif
4) Gunakan e-mail secara efektif
5) Gunakan template dalam komunikasi proyek
6) Bangun infrastruktur komunikasi
2.8 Definisi Manajemen Risiko Proyek
Proses sistematis
untuk merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon risiko proyek.
Tujuannya untuk meningkatkan peluang dan dampak peristiwa positif, dan
mengurangi peluang dan dampak peristiwa yang merugikan proyek.
Proses yang
terlibat:
1) Perencanaan manajemen risiko
2) Identifikasi risiko
3) Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif
4) Perencanaan respon risiko
5) Pengendalian dan monitoring risiko
2.9 Pentingnya Manajemen Resiko Proyek
·
Manajemen resiko proyek adalah seni dan ilmu
untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menanggapi resiko di seluruh
kehidupan suatu proyek dan kepentingan terbaik tujuan pertemuan proyek.
·
Manajemen resiko sering terabaikan dalam
proyek, tetapi dapat membantu meningkatkan kesuksesan proyek dengan membantu
proyek-proyek baik inisiasi, lingkup proyek, dan mengembangkan perkiraan
realistis.
2.10 Tahapan Manajemen Resiko Proyek
1.
Perencanaan Manajemen Risiko
·
Proses memutuskan bagaimana mendekati dan
melaksanakan aktivitas manajemen risiko untuk proyek. Memastikan tingkat, tipe, dan visibilitas
manajemen risiko yang setara dengan risiko dan kepentingan proyek bagi organisasi
·
Menyediakan sumberdaya dan waktu yang memadai
untuk aktivitas manajemen risiko
·
Menetapkan basis yang disepakati untuk
mengevaluasi risiko.
2.
Identifikasi risiko
·
Menentukan risiko-risiko yang mempengaruhi
proyek dan mendokumentasikan karakteristiknya.
·
Peserta yang terlibat: manajer proyek,
anggota tim proyek, anggota manajemen risiko, ahli teknis diluar tim proyek,
customer, end user, dan ahli manajemen risiko
·
Merupakan proses iteratif karena
risiko-risiko baru mungkin diketahui sebagai kemajuan proyek melalui siklus
hidupnya.
3.
Analisis Risiko Kualitatif
·
Menilai prioritas risiko teridentifikasi
menggunakan peluang terjadinya dan dampaknya terhadap tujuan proyek bila risiko
itu terjadi
·
Menilai faktor-faktor lain seperti kerangka
waktu dan tolerasi risiko dari kendala biaya, jadwal, ruang lingkup, dan
mutu.
4.
AnalisisRisiko Kuantitatif
·
Dikerjakan berdasarkan risiko yang
diprioritaskan oleh proses analisis risiko kualitatif
·
Proses menggunakan teknik seperti simulasi
montecarlo dan pohon keputusan untuk:
-
Menghitung hasil yang mungkin dan
peluangnya
-
Menilai peluang untuk mencapai tujuan
proyek
-
Mengidentifikasi risiko yang membutuhkan
perhatian paling besar dengan menghitung kontrubisi relatifnya terhadap
keseluruhan risiko proyek
-
Mengidentifikasi biaya, jadwal, dan target
ruang lingkup yang realistik dan dapat dicapai
-
Menentukan keputusan manajemen proyek ketika
beberapa kondisi atau hasil tidak pasti
5.
Perencanaan Respon Risiko
·
Proses mengembangkan pilihan dan menentukan
tindakan untuk meningkatkan kesempatan dan mengurangi ancaman terhadap tujuan
proyek. Ini mengikuti analisis risiko kualitatif dan kuantitatif.
2.11 Strategi Untuk Risiko Negatif
·
Avoid:
penghindaran risiko melibatkan perubahan rencana manajemen untuk
menghilangkan ancaman oleh risiko merugikan, mengisolasi tujuan proyek dari
dampak risiko, atau mengendurkan tujuan yang dalam bahaya.
·
Transfer:
pemindahan risiko mensyaratkan penggantian penerima dampak negatif dari
pemilik ke pihak ketiga.
·
Mitigate:
pengurangan peluang dan atau dampak peristiwa berisiko merugikan ke
ambang/ batas yang dapat diterima
2.12 Strategi Untuk Risiko Positif
·
Exploit.
Strategi untuk memastikan bahwa kesempatan (risiko positif) dapat terealisasi.
Contoh: menugaskan SDM yang lebih berbakat untuk mengurangi waktu penyelesaian
atau menyediakan mutu lebih baik dari yang direncankan.
·
Share.
Alokasi kepemilikan kepada pihak ke tiga yang memiliki kemampuan terbaik
menangkap peluang manfaat proyek. Contoh: special purposes company, joint
venture
·
Enhance.
Memodifikasi “ukuran” kesempatan dengan meningkatkan peluang dan atau
dampak positif dengan mengidentifikasi dan memaksimalkan pengendali kunci dari
risiko berdampak positif. Strategi untuk ancaman dan kesempatan
·
Acceptance:
sangat jarang kemungkinan untuk menghilangkan seluruh risiko proyek. Tim
proyek memutuskan tidak mengubah rencana manajemen proyek untuk menyesuaikan
dengan risiko.
2.13 Strategi Respon Kontingen
·
Beberapa respon dirancang untuk digunakan
hanya bila peristiwa tertentu terjadi. Untuk beberapa risiko, tim proyek
membuat rencana respon yang hanya akan dilaksanakan dibawah kondisi tertentu
2.14 Pengendalian dan Monitoring Risiko
·
Proses mengidentifikasi, menganalisis, dan
merencanakan risiko-risiko yang baru muncul, melacak risiko teridentifikasi,
menganalisis ulang risiko sekarang, memonitor kondisi pemicu rencana
kontingensi, memonitor sisa risiko, dan mereview pelaksanaan respon risiko saat
mengevaluasi keefektivannya.
·
Tujuan lainnya adalah untuk memastikan bila:
asumsi proyek masih valid, risiko (sebagaimana telah dinilai) berubah dari
sebelumnya, kebijakan dan prosedur manajemen risiko diikuti, cadangan biaya dan
jadwal kontingensi dimodifikasi sesuai risiko proyek
2.15 Hasil Manajemen Resiko Proyek yang Baik
·
Tidak seperti krisis manajemen, manajemen
resiko proyek yang baik sering terjadi tanpa disadari.
·
Proyek yang berjalan tampaknya hampir mudah,
tetapi banyak pekerjaan yang masuk ke dalam proyek berjalan dengan baik.
·
Manajer proyek harus berusaha keras untuk
membuat pekerjaan tim terlihat mudah untuk mencerminkan hasil dari
proyek-proyek yang dikelola dengan baik.
3. PEMBAHASAN
3.1 Manajemen Ruang Lingkup STI
Dalam merencanakan proyek sistem dan
teknologi informasi, PT Telkom memiliki proses manajemen ruang lingkup, yaitu :
1. Perencanaan lingkup proyek sistem dan teknologi informasi
2. Pengumpulan persyarakat proyek
3. Pendefinisian ruang lingkup proyek
4. Perancangan WBS
5. Verifikasi ruang lingkup proyek
6. Pengendalian ruang lingkup proyek
Berikut
merupakan rincian dari tahapan perencanaan ruang lingkup PT Telkom: Ruang
lingkup bisnis kegiatan Perusahaan adalah menyelenggarakan jaringan dan layanan
telekomunikasi, infomatika serta optimalisasi sumber daya Perusahaan. Untuk
mencapai tujuan tersebut di atas, Perusahaan menjalankan kegiatan usaha yang
meliputi:
1. Usaha Utama
a. Merencanakan, membangun. menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan,
memasarkan atau menjual menyewakan dan memelihara jaringan telekomunikasi dan
informatika dalam arti yang seluas-luasnya dengan memperhatikan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Merencanakan, mengembangkan, menyediakan, memasarkan atau menjual dan
meningkatkan layanan jasa telekomunikasi dan informatika dalam arti yang
seluas-luasnya dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Usaha Penunjanga
a. Menyediakan layanan transaksi pembayaran dan pengiriman uang melalui
jaringan telekomunikasi dan informatika.
b. Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber
daya yang dimiliki Perusahaan, antara lain pemanfaatan aset tetap dan aset
bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan dan pelatihan dan
fasilitas pemeliharaan dan perbaikan
3.2
Manajemen Mutu Proyek STI
1.
Pengelolaan Proses Berstandar ISO :
Sejak tahun
1996, kami secara konsisten telah menerapkan sistem manajemen mutu berbasis ISO
dan pada tahun 2001 penerapannya diintegrasikan dengan kriteria keunggulan
kinerja berbasis Malcolm Baldrige. Penerapan kedua sistem manajemen
mutu tersebut (ISO dan Malcolm Baldrige) tidak lain adalah untuk
membangun proses tata kelola dan akuntabilitas kinerja melalui penerapan
disiplin proses dan pendokumentasian yang baik berbasis ISO dan peningkatan
keunggulan kinerja Perusahaan mengacu pada penilaian keunggulan kinerja Malcolm
Baldrige. Tahun 2013 Perusahaan dinilai keunggulan kinerjanya oleh Tim
penilai KPKU dari Kementerian BUMN dan secara internal dilakukan penilaian
sendiri (self assessment) pada
tingkat Unit Bisnis/Divisi. Berikut ini merupakan kebijakan mutu pada PT.
Telkom
·
PT.
Telkom Akses menjamin kepuasan
setiap pelanggan, baik itu institusi maupun pelanggan akhir serta kepuasan
stakeholder melalui komitmen seluruh jajaran Telkom Akses dalam
menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO9001:2008.
·
PT.
Telkom Akses memiliki komitmen
memberikan layanan terbaik melalui pengelolaan ekselen jasa konstruksi dan
manage service sesuai persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO
9001:2008 yang ditetapkan yang berorientasi kepada tepat mutu, tepat waktu dan
tepat volume.
·
PT.
Telkom Akses Meningkatkan mutu dan
kinerja melalui perbaikan secara berkesinambungan dalam rangka
memenuhi persyaratan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan stakeholder serta
mendorong pencapaian tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
·
PT.
Telkom Akses akan meninjau kesesuaian
Kebijakan dan Sistem Manajemen Mutu secara berkala sesuai dengan
perkembangan Perusahaan.
3.3
Manajemen
Waktu Proyek STI
Berikut ini
merupakan estimasi rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk proyek TI di PT Telkom
Indonesia.
3.4 Manajemen Biaya Proyek STI
Dalam melaksanakan proyek STI, PT Telkom merencanakan anggaran biaya maksimal yang dapat digunakan untuk pelaksanaan masing-masing proyek STI. Berikut ini merupakan estimasi biaya maksimal untuk setiap proyek sistem teknologi dan informasi di PT Telkom:
Note:
·
Biaya
di atas merupakan estimasi biaya maksimal untuk setiap proyek.
·
Biaya
perlengkapan terkait dengan kebutuhan software dan hardware yang dibutuhkan
untuk menunjang pelaksanaan proyek STI PT Telkom.
·
Biaya
perawatan merupakan biaya maksimal untuk maintenance dengan jangka waktu 3
bulan.
3.5
Manajemen
Sumber Daya Manusia
Estimasi
kebutuhan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia adalah maksimal sebanyak 5 orang
yang bekerja sesuai dengan kemampuannya. Penyusunan Human Capital
Master Plan juga didasarkan pada analisis penawaran dan permintaan
yang akurat serta terukur, yaitu dengan menggunakan referensi data acuan,
terutama acuan rasio produktivitas pada beberapa Perusahaan sejenis. Informasi
yang ada dalam Human Capital Master Plan Telkom Group terdiri
dari:
·
Proyeksi
mengenai jumlah human capital yang dihitung berdasarkan
portofolio bisnis selama periode lima tahun ke depan.
·
Proyeksi
tentang komposisi human capital secara rinci dengan mengacu
pada komposisi job stream, pendidikan, usia dan jabatan.
·
Rencana
ketenagakerjaan yang berisi rencana SDM tahunan di masing-masing Perusahaan
yang termasuk jajaran Telkom Group.
Strategi pengelolaan SDM menekankan
pada harmonisasi jumlah dan kompetensi SDM searah dengan portofolio bisnis yang
semakin fokus pada TIMES. PT Telkom juga berupaya meningkatkan sinergi dan
efisiensi di antara Perusahaan di jajaran Telkom Group dan terus menekankan
penerapan nilai-nilai Perusahaan yang telah ditetapkan. Upaya ini
diimplementasikan dengan menyusun rencana pengalokasian karyawan untuk lima
tahun ke depan dan rencana ketenagakerjaan setiap tahun agar dapat memberikan
informasi yang lebih akurat untuk mendukung kemajuan usaha perusahaan.
Rencana
ketenagakerjaan disusun dengan mengidentifikasi kebutuhan karyawan, yang
mengacu pada Human Capital Plan atau Rolling Human
Capital Plan Telkom Group. Fokus dari rencana ketenagakerjaan adalah
pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dengan merujuk pada acuan yang
kompetitif. Kami berharap dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi jumlah
tenaga kerja yang ada di samping tetap melakukan rekrutmen sekitar 20% dari
jumlah karyawan yang keluar.
Pengembangan Kompetensi SDM
1.
Competency Based Human Resources Management (”CBHRM”)
Kami telah menetapkan strategi
pengembangan kompetensi human capital yang dituangkan dalam Human
Capital Master Plan, yang senantiasa diperbaharui setiap tahunnya guna
menyesuaikan dengan dinamika bisnis Perusahaan. Pelaksanaannya juga
diselaraskan dengan strategi bisnis yang berdasarkan kepada Corporate
Strategic Scenario (“CSS”), Master Plan for Human Capital (“MPHC”), Human
Capital Development Plan (“HCD Plan”), transformasi organisasi serta
kondisi keuangan Perusahaan. Model CBHRM terdiri atas Core Competency (values), Generic
Competency (Personal Quality), dan Specific
Competency (Skill & Knowledge). Ketiga model ini
dikembangkan dan disempurnakan untuk mendukung penilaian kemampuan pegawai
secara adil dan transparan. Pengembangan kompetensi karyawan dititikberatkan
pada hal-hal berikut ini:
·
Pengembangan
Character yang didasarkan pada budaya perusahaan The Telkom Way yang
berlandaskan pada filosofi To be The Best (Ihsan), Principle
to be The Star (Solid, Speed, Smart) dan Practices
to be the Winner (Imagine, Focus, Action).
·
Pengembangan Competence yang
berstandar global.
·
Pengembangan Chiefship (Leadership)
yang didasarkan pada Telkom Leadership Architecture yang
berlandaskan prinsip Lead by Heart dan Manage by Head.
3.6
Manajemen
Komunikasi Proyek STI
Memahami dan mengerti
kebutuhan serta ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian penting dari
pengelolaan GCG untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi pemangku
kepentingan. Melalui budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen berusaha
untuk menumbuhkan tata nilai dan budaya Perusahaan dengan cara pemahaman
dikalangan karyawan akan nilai-nilai yang harus senantiasa disampaikan kepada
semua pemangku kepentingan dan menjadikannya sebagai pusat inspirasi termasuk
norma dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan.
3.7
Manajemen
Resiko Proyek STI
Sejak
2006, kami telah menerapkan manajemen risiko mengacu kepada kerangka kerja COSO Enterprise
Risk Management. Dalam penerapannya, manajemen risiko adalah bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari penerapan GCG dan pengendalian internal di
perusahaan.
Visi
Perusahaan terkait dengan penerapan manajemen risiko adalah: “Menjadikan
pengelolaan risiko sebagai BUDAYA YANG MELEKAT dalam pelaksanaan proses bisnis
dan operasional”. Untuk itu, sejak tahun 2008 kami telah membangun dan
mengembangkan:
·
Aspek
Struktural meliputi
pengembangan visi manajemen risiko, misi, komitmen, tone at the top,
lingkungan internal yang kondusif, kebijakan, pengembangan kompetensi,
IT tools dan kesisteman.
·
Aspek
Operasional meliputi
penentuan Risk Acceptance Criteria, pelaksanaan Risk
Assessment dan pengembangan manajemen risiko untuk fungsi spesifik.
·
Aspek
Perawatan meliputi monitoring implementasi
manajemen risiko, pelaporan berkala (risk reporting), menjaga
pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Serta melakukan review melalui Risk
Management Index, Survei Budaya Risiko maupun penilaian Tingkat Maturitas
Implementasi.
Saat ini
implementasi manajemen risiko telah mencapai tingkatan dimana manajemen risiko
telah diintegrasikan di seluruh entitas Perusahaan. Ke depan kami telah
menyusun road map pengembangan Entity Risk Management sebagai
berikut:
·
2013
: peningkatan ERM Maturity Level pada initial Stage
Quantified Level.
·
2014
: peningkatan ERM Maturity Level pada intermediate
Stage Quantified Level.
·
2015
: peningkatan ERM Maturity Levelpada advanced stage
Quantified Level.
·
2016
: peningkatan ERM Maturity Level masuk ke Optimized
Level.
3.8
Manajemen
Pengadaan Proyek STI
Proses
Pengadaan Barang dan/atau jasa PT Telkom
Pada tahap menentukan spesifikasi,
PT Telkom tidak dihadapkan pada pilihan untuk membuat sendiri barang/jasa yang
dibutuhkan, tapi membeli kepada perusahaan-perusahaan yang menjual alat
produksi atau jasa tertentu, seperti bantuan teknis, pemborongan, dan lain-lain.
Menurut Pedoman Pelaksanaan Pengadaan tahun 2011, PT Telkom hanya melakukan
pengadaan melalui tiga cara, yaitu pelelangan, pemilihan langsung dan
penunjukan langsung. Metode pembelian langsung memang sebaiknya tidak perlu
diterapkan karena mayoritas alat produksi yang diperlukan adalah jenis
barang/jasa yang sangat spesifik dan berteknologi tinggi, sehingga penjual
barang/jasa tersebut sangat sedikit. Kondisi tersebut menyebabkan harga
barang/jasa tidak terlalu ditentukan oleh mekanisme pasar, selayaknya tujuan
dari pembelian langsung. Dari 3 cara pengadaan yang dapat dilakukan, sebagian
besar pengadaan menggunakan cara penunjukan langsung. Ini
juga dikarenakan barang/jasa yang spesifik dan berteknologi tinggi,
serta riwayat pengadaan sebelumnya untuk barang/jasa yang sama menggunakan
penunjukan langsung. Menurut penulis, metode penunjukan langsung ini kurang
efisien karena menyebabkan kurangnya bargaining
power yang dimiliki PT Telkom, sehingga berdampak pada harga barang/jasa.
Sebaiknya PT Telkom meningkatkan pengadaannya melalui pelelangan atau
pemilihan langsung, karena dengan semakin banyaknya peserta pengadaan,
secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan tawar menawar PT Telkom
dengan peserta pengadaan tersebut.
Proses pemilihan supplier yang dilakukan PT Telkom
terhadap peserta pengadaan telah diatur melalui beberapa tahap yang detail,
salah satunya dibuktikan dengan adanya evaluasi awal terhadap peserta pengadaan
sebelum melakukan negosiasi harga. Selain itu, kriteria supplier yang dirumuskan PT Telkom sudah sangat lengkap,
seperti harus memiliki NPWP, membayar pajak, tidak dalam pengawasan, tidak
pailit, memiliki track record yang
baik, menandatangani pakta integritas, dan kriteria lainnya. PT Telkom juga
telah mengatur tentang peserta pengadaan asing yang tidak memiliki NPWP
dengan cara mengganti dengan dokumen lain yangsejenis.Pada penyusunan kontrak/
perjanjian dengan supplier , MSC telah memuat ketentuan-ketentuan kontrak
yang seharusnya dan akan dijelaskan pada analisis selanjutnya mengenai pokok
dan prosedur kontrak.
Setelahmenandatangani surat kontrak, supplier
harus membayarkan jaminan pelaksanaan sebesar 5-7% dari total harga pembelian
untuk mengurangi tingkat risiko bagi Telkom. Dalam pengawasan kualitas
barang/jasa, MSC telah melakukan evaluasisebagai pengukuran performa
supplier.
PT Telkom tidak hanya mengevaluasi
diakhir pelaksanaan pekerjaan, namun juga pada persyaratan administrasi sebelum
pemilihan supplier yang tepat dan sesuai. Pada evaluasi akhir pelaksanaan,
PT Telkom menggunakan tiga pendekatan, yaitu metode evaluasi harga terendah,
evaluasi sistem nilai, dan evaluasi khusus metode penunjukan langsung. Pada
metoda penunjukan langsung, PT Telkom sulit untuk menilai harga yang tepat
dan wajar karena evaluasi hanya sebatas keabsahan dan/atau kebenaran aritmatik.
Sebaiknya MSC menetapkan standar harga untuk barang
/jasa tertentu yang hanya bisa dibeli menggunakan
metoda penunjukan langsung, tentunya dengan prinsip ketepatan dan kewajaran
harga.
Kesimpulan yang berkaitan dengan
proses pengadaan secara umum dan kontrak pengadaan barang/jasa,
antara lain sebagai berikut:
a.
Pengadaan
Barang dan Jasa (Procurement)
1.
PT
Telkom telah menerapkan secara rinci pengadaan barang/jasa, yang dimulai dari define specification, select supplier,
contract agreement, ordering, expediting, evaluation.
2.
Pada
pengadaan melalui penunjukan langsung, PT Telkom hanya melakukan evaluasi harga
dengan cara menilai keabsahan dan/atau kebenaran aritmatik, sehingga sulit
untuk menilai harga yang tepat dan wajar.
b.
Jenis
Perjanjian/ Kontrak pengadaan Barang dan/atau Jasa
PT Telkom
hanya menggunakan dua jenis kontrak, yaitu berdasarkan pola perjanjian dan
jangka waktu pelaksanaan. Pada jenis kontrak berdasarkan pola perjanjian,
PT Telkom hanya mencantumkan jenis kontrak KHS danTurn Key.
c.
Pokok
dan Prosedur Perjanjian/Kontrak Pengadaan Barang dan/atau Jasa
1.
PT
Telkom telah mencantumkan pokok dan prosedur kontrak dengan rinci sesuai dengan
teori menurut Sutedi, antara lain dimulai dengan judul perjanjian, pembukaan,
pihak-pihak dalam perjanjian, Recital, isi perjanjian, dan penutup.
2.
Dalam
isi perjanjian, PT Telkom telah memuat berbagai ketentuan yang dijelaskan dalam
pasal-pasal perjanjian. Isi perjanjian tersebut juga disesuaikan dengan
jenis pekerjaan, artinya terdapat beberapa perbedaan pada isi pasal antara
pengadaan barang dengan pengadaan jasa, misalnya pasal kerusakan dan kerugian.
3.9
Manajemen
Integrasi Proyek STI
Berikut merupakan manajemen
integrasi proyek sistem teknologi dan informasi pada PT Telkom, antara lain:
1.
Mengembangkan
carta proyek: Bekerja dengan para pemangku kepentingan untuk menciptakan
dokumen yang secara formal memberikan wewenang kepada proyek – Carta Proyek.
2.
Mengembangkan
pernyataan lingkup awal proyek : Bekerja dengan pemangku kepentingan, khususnya
pengguna produk, jasa, atau hasil proyek, untuk mengembangkan ruang lingkup
tingkat tinggi persyaratan dan membuat pernyataan lingkup awal proyek.
3.
Mengembangkan
rencana pengelolaan proyek: Mengkoordinasikan segala upaya perencanaan untuk
menciptakan dokumen yang konsisten dan koheren – Rencana Manajemen Proyek.
4.
Mengatur
dan mengelola eksekusi proyek: Melaksanakan rencana pengelolaan proyek dengan
melakukan kegiatankegiatan yang termasuk di dalamnya.
5.
Memantau
dan mengendalikan pekerjaan proyek: Mengawasi pekerjaan proyek untuk memenuhi
sasaran kinerja proyek.
6.
Melaksanakan
pengendalian perubahan terpadu: Mengkoordinasi perubahan yang mempengaruhi hasil
proyek dan aset-aset proses organisasi.
7.
Menutup
proyek: Mengakhiri semua aktivitas proyek untuk menutup proyek secara formal.
4. KESIMPULAN
Memahami
dan mengerti kebutuhan serta ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian
penting dari pengelolaan GCG untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi
pemangku kepentingan. Melalui budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen
berusaha untuk menumbuhkan tata nilai dan budaya Perusahaan dengan cara
pemahaman dikalangan karyawan akan nilai-nilai yang harus senantiasa
disampaikan kepada semua pemangku kepentingan dan menjadikannya sebagai pusat
inspirasi termasuk norma dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan.
Saat
ini implementasi manajemen risiko telah mencapai tingkatan dimana manajemen
risiko telah diintegrasikan di seluruh entitas Perusahaan. Ke depannya PT Telkom telah menyusun road map pengembangan Entity
Risk Management sebagai berikut:
•
2013 : peningkatan ERM Maturity Level pada
initial Stage Quantified Level.
•
2014 : peningkatan ERM Maturity Level pada
intermediate Stage Quantified Level.
•
2015 : peningkatan ERM Maturity Levelpada
advanced stage Quantified Level.
•
2016 : peningkatan ERM Maturity Level masuk
ke Optimized Level.
DAFTAR PUSTAKA
Manajemen Proyek PT Telkom Indonesia
Tbk. (t.thn.).
Dipetik Oktober 2021, dari repository.telkomuniversity.ac.id:
https://repository.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/146201/bab1/perancangan-quality-metric-untuk-control-quality-menggunakan-metode-internal-control-pada-proyek-revitalisasi-fiber-termination-management-ftm-pt-telkom-indonesia.pdf
Gie.
(2020, Februari 24). Manajemen Proyek : Pengertian, Tujuan, Sasaran, Ruang
Lingkup, dan Contohnya. Dipetik Oktober 2021, dari accurate.id:
https://accurate.id/marketing-manajemen/pengertian-manajemen-proyek/
Edisi
Proyek, Manajemen Proyek dan 6 Prinsipnya. (2021, Agustus 3). Dipetik Oktober 2021, dari
tomps.id: https://tomps.id/definisi-proyek-manajemen-proyek-dan-6-prinsipnya/
Septiyono,
M. (t.thn.). Analisa Manajemen Proyek TI PT Telekomunikasi Indonesia.
Dipetik Oktober 2021, dari www.academia.edu:
https://www.academia.edu/32595334/Analisa_Manajemen_Proyek_TI_PT_Telekomunikasi_Indonesia.docx
Yananda,
R. (2020, Maret). Apa yang dimaksud Manajemen Komunikasi Proyek?
Dipetik Oktober 2021, dari www.dictio.id:
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-manajemen-komunikasi-proyek/123857
Baskoro,
F. (2019). MPPL-2019-Manajemen Komunikasi. Dipetik Oktober 2021, dari
fajarbaskoro.blogspot.com:
http://fajarbaskoro.blogspot.com/2019/10/mppl-2019-manajemen-komunikasi.html
Putra, Y. M., (2021). Manajemen Komunikasi
& Manajemen Resiko pada Manajemen Proyek. Modul Kuliah Manajemen
Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas Mercu Buana.
Vidianto, A. S., & Haji, W. H. (2020).
Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Kanban (Studi Kasus: PT.
XYZ). Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK), 7(2).
Darmawan, D., & Ratnasari, A. (2020).
Rancang Bangun Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Web Pada PT Seatech
Infosys. Jurnal Sisfokom (Sistem Informasi dan Komputer), 9(3),
365-372.
Nugroho, A., & Kusumah, L.H. (2021).
Analisis Pelaksanaan Quality Control untuk Mengurangi Defect Produk di
Perusahaan Pengolahan Daging Sapi Wagyu dengan Pendekatan Six Sigma. Jurnal
Manajemen Teknologi 20 (1), 56-78.
Saryanto, S., Purba, H., & Trimarjoko,
A. (2020). Improve quality remanufacturing welding and machining process in
Indonesia using six sigma methods. J. Eur. SystèMes Autom, 53,
377-384.
Komentar
Posting Komentar