PEMETAAN KONSEP MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA PT TELKOM INDONESIA TBK

PEMETAAN KONSEP MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA  PT TELKOM INDONESIA TBK

Artika Priananda, Ichsan Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu P, Riski Serina Safitri

Manajemen Proses Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana

Jl. Meruya Selatan No.31, Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816

 

 

Abstrak

Proses bisnis adalah suatu kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu atau yang menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan tertentu). Analisis proses bisnis umumnya melibatkan pemetaan proses dan subproses di dalamnya hingga tingkatan aktivitas atau kegiatan. Keberhasilan bisnis adalah tujuan akhir bagi setiap wirausahawan meskipun satu langkah yang salah dapat menjadi masalah besar dan mungkin menghabiskan banyak uang untuk memperbaiki kesalahan tunggal itu. Itulah mengapa pentingnya merencanakan dan merancang proses bisnis agar seluruh alur berjalan dengan benar.

 

Telkom menerjemahkan kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital platform dan digital services. Kinerja pendapatan yang tumbuh positif dengan tingkat profitabilitas yang baik ini kami lalui di tengah situasi pandemi COVID-19 serta persaingan bisnis yang ketat di industri telekomunikasi.

 

 

Kata Kunci: Proses Bisnis, Kinerja, Konsep Manajemen Proses Bisnis

 


 


1.      PENDAHULUAN

            Proses bisnis adalah suatu kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu atau yang menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan tertentu). Suatu proses bisnis dapat dipecah menjadi beberapa sub proses yang masing-masing memiliki atribut sendiri tetapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari super prosesnya. Analisis proses bisnis umumnya melibatkan pemetaan proses dan subproses di dalamnya hingga tingkatan aktivitas atau kegiatan. Keberhasilan bisnis adalah tujuan akhir bagi setiap wirausahawan meskipun satu langkah yang salah dapat menjadi masalah besar dan mungkin menghabiskan banyak uang untuk memperbaiki kesalahan tunggal itu. Itulah mengapa pentingnya merencanakan dan merancang proses bisnis agar seluruh alur berjalan dengan benar.

            Telkom menerjemahkan kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital platform dan digital services. Strategi domain bisnis tersebut didukung oleh strategi value delivery model yang mencakup strategi optimalisasi portofolio, teknologi, organisasi, sinergi dan keunggulan operasional, pengelolaan talenta dan budaya perusahaan, inisiatif inorganik, serta tata kelola perusahaan.

            PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”. Dalam upaya bertransformasi menjadi digital telecommunication company, TelkomGroup mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi TelkomGroup menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.

 

2.      LITERATUR TEORI

2.1  Definisi Kinerja

      Banyak perguruan tinggi yang hanya menggunakan 3 sampai 5 persen untuk menganalisis informasi. Pada era sekarang dengan pertumbuhan informasi yang cepat terkadang tidak dapat dikendalikan untuk meraih keberhasilan perguruan tinggi. Kemampuan untuk mengelola informasi untuk pengambilan keputusan yang membawa keberhasilanorganisasi sangatlah penting. Kata yang penting dalam hal ini adalah performansi. Performansi atau kinerja merupakan kata yang mempunyai makna penting bagi pengelolaan pendidikan tinggi dewasa ini. Posisi dalam Webomatrics, THE-QS, dan yang lainnya hanya merupakan dampak dalam mengelola perguruan tinggi yang berkinerja baik.

      Dalam lingkup organisasi, performansi dapat diklasifikasikan dalam beberapa level, yaitu level organisasi atau perusahaan, level unit kerja, dan level individu. Berbagai metode dan aktivitas dikembangkan untuk dapat mencapai performansi yang maksimal; termasuk teknik-teknik manajemen untuk memastikan performansi tercapai. Banyak definisi tentang performansi, masing- masing ahli manajemen mendefinisikannya secara beragam. Menurut Bernardin dan Russel (1993), “Performansi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu”.

      Kinerja organisasi merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan suatu organisasi, serta merupakan hasil yang dicapai dari perilaku anggota organisasi. Hasil kerja yang dicapai oleh suatu organisasi dalam menjalankan tugasnya dalam kurun waktu tertentu, baik yang terkait dengan input, output, outcome, benefit, maupun impact dengan tanggung jawab dapat mempermudah arah penataan organisasi pemerintahan. Adanya hasil kerja yang dicapai oleh suatu organisasi dengan penuh tanggung jawab akan tercapai peningkatan kinerja yang efektif dan efisien.

      Selain itu, definisi kinerja proses bisnis adalah hasil dari serangkaian proses kegiatan bisnis yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu organisasi. Suatu kinerja proses bisnis dapat dipecah menjadi beberapa subproses yang masing-masing memiliki atribut sendiri tetapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari subprosesnya.

 

2.2  Metode Pengukuran Kinerja Proses Bisnis

Metode pengukuran kinerja terdapat dua, yaitu :

1.      Tradisional : Berdasarkan standar biaya

Dalam metode ini, Tidak memperhitungkan biaya modal, sehingga dapat menghasilkan keputusan yang misleading karena hanya memfokuskan pada investasi dengan tingkat pengembalian tinggi tanpa memperhatikan tingkat reisiko investasi. Lalu, metode ini belum dapat mengatasi konflik yang muncul. Manajemen berkepentingan Memaksimumkan tingkat pengembalian yang akan memperbaiki kinerja perusahaannya, sedangkan investor berkepentingan untuk meminimumkan tingkat resiko investasinya. Pada metode ini pun tidak dapat berdiri sendiri :

·         Perlu data pembanding, seperti standar industri dan sering kali tidak tersedia

·         Perlu analisis rasio

2.      Kontemporer : Berdasarkan aktivitas karyawan

Perspektif proses bisnis internal dilihat dari kinerja karyawan dapat dinilai baik hal ini ditunjukan pada tingkat kesalahan karyawan dalam memberikan layanan dan respond time persentase mengalami penurunan. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dilihat dari produktivitas karyawan kinerja karyawan dinilai baik hal ini ditunjukan pada peningkatan pendapatan usaha koperasi dari jumlah karyawan yang ada.

 

        Untuk mengetahui kinerja proses bisnis diperlukan alat ukur, standar dan pedoman supaya hasil evaluasi kinerja bersifat objektif dan professional pengukuran seharusnya menggunakan teknik kuantifikasi. Misalnya; mengukur kinerja karyawan, tidak bisa berdasarkan like-dislike atau emosional judgement atau nepotisme, tetapi berdasarkan tolok ukur/standar dan target yang ditentukan. Pengukuran produk tidak hanya dilakukan pada produk akhir tetapi juga produk2 antara disamping itu juga diperlukan suatu standar yang mengacu pada kaidah profesional. Kinerja proses diukur dengan output atau luaran dari proses. Demikian pula proses bisnis, kinerja proses bisnis diukur dari hasilnya atau inputnya. Tetapi kualitas output dari suatu proses tidak hanya dipengaruhi oleh prosesnya itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi faktor2 lain, diantaranya adalah inputnya dan juga bisnis environmentnya, proses bisnis dipengaruhi oleh bisnis environment :

a.       Supplier : supplier atau pemasok secara umum adalah pihak perorangan atau perusahaan yang memasok atau menjual bahan mentah ke pihak lain, baik itu ke perorangan atau perusahaan agar bisa dijadikan produk barang atau jasa yang matang.

b.      Competitors : kompetitor adalah satu atau beberapa pesaing usaha yang mempunyai produk barang atau jasa yang sama dengan bisnis.

c.       Stockholders : Stockholder adalah orang yang memiliki saham di suatu perusahaan dan oleh karenanya mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan dan hak untuk memberikan suara (pendapat) terhadap cara perusahaaan tersebut dikendalikan.

d.      Regulatory : Regulator adalah rangkaian regulasi atau pengatur tegangan keluaran dari sebuah catu daya agar efek darinaik atau turunnya tegangan jala-jala tidak mempengaruhi tegangan catu daya sehingga menjadi stabil.

e.       Customer : customer atau pelanggan secara umum adalah organisasi atau orang yang membeli suatu produk barang atau jasa dari suatu toko maupun bisnis tertentu.

 

2.3  Cara Pengukuran Kinerja Proses Bisnis

      Untuk mengetahui kinerja proses bisnis diperlukan alat untuk standar dan pedoman supaya hasil evaluasi kinerja bersifat objektiv dan profesional pengukuran seharusnya menggunakan teknik kuantifikasi, pengukuran kinerja proses bisnis ini memantau dan pelaporan kemajuan dan pencapaian program yang sedang berlangsung, menggunakan ukuran kinerja yang telah dipilih sebelumnya. Kinerja proses bisnis diukur dengan output atau luaran dari proses. Demikian pula proses bisnis diukur dari hasilnya atau inputnya, tetapi kualitas output dari suatu proses tidak hanya dipengaruhi oleh prosesnya itu sndiri, tetapi juga dipengaruhi faktor faktor lain.

Pengukuran kinerja perlu dilakukan untuk:

a)      Mengidentifikasi proses atau area yang perlu ditingkatkan

b)      Memberikan gambaran perkembangan dari waktu ke waktu yang disebut trend kinerja

c)      Membandingkan tingkat kinerja suatu perusahaan dengan perusahaan lain

d)     Menilai apakah proyek peningkatan yang dimulai (atau telah selesai) memang benar-benar atau akan membawa hasil

e)      Mengevaluasi alat peningkatan yang harus digunakan di masa depan

Indikator Pengukuran Kinerja Proses Bisnis :

1)      Spesific : memperhatikan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran

2)      Measurable : tingkat pencapaian dapat diukur secara akurat

3)      Attainable : dapat dicapai dengan usaha dan dalam kondisi yang wajar

4)      Relevant : relevan dengan apa yang ingin diketahui

5)      Timely : hasil pengukuran dapat diperoleh tepat waktu

 

2.4  Jenis-Jenis Pengkuruan Kinerja Proses Bisnis

1)      Hard vs. Soft Measures

·         Ukuran hard adalah fakta orisinil yang dapat langsung diukur. Bersifat kuantitatif, contoh: waktu dan biaya.

·         Ukuran soft adalah kondisi “abstrak” yang hanya bis diukur secara tidak langsung. Bersifat kualitatif, contoh: kepuasan konsumen.

 

 

2)      Financial vs. Non financial Measures

·         Ukuran finansial menggunakan nilai moneter, contoh: margin, value added, turnover of capital.

·         Ukuran non finansial adalah ukuran selain finansial, contoh: waktu pengiriman, delivery precision, defect rate (rata-rata produk cacat), jumlah keluhan, kepuasan konsumen.

3)      Result vs. Process Measures

·         Ukuran proses adalah ukuran berupa ciri penting suatu proses yang dianggap memiliki pengaruh terhadap hasil kerja, contoh: jumlah pertemuan dalam tim lintas departemen.

·         Ukuran hasil umumnya berupa jumlah perubahan yang dapat diterapkan.

4) Measures defined according to purpose

 

2.5    Tujuan Pengukuran Kinerja

1)      Mengetahui capaian tujuan organisasi

2)      Saranan pembelajaran pegawai

3)      Perbaikan kinerja periode berikut

4)      Pertimbangan reward and punishment

5)      Motivasi pegawai

6)      Menciptakan akuntabilitas

 

2.6  Interpretasi Self Assessment

      Self assesment atau evaluasi diri adalah teknik untuk mengevaluasi tingkat kinerja perusahaan dan proses bisnisnya yang dilakukan oleh perusahaan sendiri. Dalam menginterpretasi hasil pengukuran self assessment berbagai alat dapat digunakan. Berbagai alat tersebut antara lain yang dapat digunakan untuk memprioritaskan usaha peningkatan berdasarkan hasil self assessment, yaitu:

1)      Trend Analysis, alat ini akan menghasilkan analisis perkembangan tingkat kinerja, arah perkembangan dapat diketahui dengan membandingkan hasil pengukuran saat ini dengan periode sebelumnya. Ukuran dengan trend negatif adalah kandidat yang kuat untuk ditingkatkan

2)      Spider Chart, alat untuk membandingkan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain. Hasilnya berupa perbandingan kinerja dengan perusahaan lain, misalnya kompetitor. Hasilnya menunjukkan gambaran seberapa baik perusahaan dibandingkan dengan kompetitornya. Data input berupa analisis pasar, statistik industri dan lain-lain

3)      Performance Matrix, selain menganalisis seberapa baik suatu proses bisnis juga menganalisis seberapa penting proses bisnis tersebut. Pentingnya suatu proses bisnis perlu diketahui agar perusahaan terhindar dari penggunaan sumber daya untuk meningkatkan suatu proses bisnis yang kinerjanya jelek tetapi tidak penting.

3.      PEMBAHASAN

3.1  Strategi Bisnis PT Telkom Indonesia Tbk

      Telkom menerjemahkan kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital platform dan digital services. Strategi domain bisnis tersebut didukung oleh strategi value delivery model yang mencakup strategi optimalisasi portofolio, teknologi, organisasi, sinergi dan keunggulan operasional, pengelolaan talenta dan budaya perusahaan, inisiatif inorganic, serta tata kelola perusahaan.

3.2  Program dan Sasaran Kinerja Tahun 2020

Pada tahun 2020, Perseroan melanjutkan komitmen untuk terus dapat tumbuh secara sehat dengan tingkat profitabilitas yang baik sejalan dengan penguatan kapabilitas digital perusahaan. Sebagai kesinambungan tahun sebelumnya, pada tahun 2020 Perseroan mencanangkan 3 program utama, yaitu:

1)      Deliver best quality of digital connectivity services with improved customer experience, dimana Perseroan akan memperkuat posisi leadership pada layanan digital connectivity sebagai bisnis yang mendukung kinerja keuangan melalui infrastruktur dan operasional yang semakin efisien, serta meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan.

2)      Develop digital talent and establish digital platform business by leveraging group collaboration & synergy, dimana Perseroan akan terus mengembangkan talenta-talenta digital dan mempercepat pertumbuhan digital platform sebagai sumber pertumbuhan baru dengan memanfaatkan potensi kolaborasi dan sinergi di TelkomGroup.

3)      Drive portfolio optimization along with cost leadership and lean organization, untuk mendorong peningkatan nilai bisnis melalui penataan portfolio sehingga terbentuk organisasi yang lincah dan produktif. Dengan kapabilitas yang telah kami bangun dalam beberapa tahun terakhir serta melalui strategi dan program-program yang disusun dan dijalankan secara sistematis, pada tahun 2020 kami berharap kinerja Perseroan dapat terus bertumbuh secara kompetitif dan meraih tingkat profitabilitas yang baik.

3.3  Kinerja Perusahaan Tahun 2020

       Pada tahun 2020, Telkom membukukan total Pendapatan sebesar Rp136,5 triliun atau tumbuh sebesar 0,7% dibandingkan tahun 2019. Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatatkan EBITDA sebesar Rp72,1 triliun atau tumbuh sebesar 11,2% dan Laba Bersih sebesar Rp20,8 triliun, atau tumbuh sebesar 11,5% dibandingkan tahun 2019. Kinerja Pendapatan yang tumbuh positif dengan tingkat profitabilitas yang baik ini kami lalui di tengah situasi pandemi COVID-19 serta persaingan bisnis yang ketat di industri telekomunikasi.

       Di segmen Mobile, Telkom melalui entitas anak Telkomsel, mampu mempertahankan posisi sebagai operator seluler terbesar di Indonesia dengan cakupan nasional yang melayani 169,5 juta pelanggan, dimana 115,9 juta diantaranya merupakan pengguna mobile data. Pendapatan Digital Business Telkomsel tumbuh cukup baik sebesar 7% YoY menjadi Rp62,34 triliun, yang didorong oleh semakin tingginya kebutuhan layanan data masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Kontribusi pendapatan dari Digital Business telah meningkat menjadi 71,6% dari total pendapatan Telkomsel, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 63,9%. Pertumbuhan Digital Business ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan Data sebesar 8,3% yang didorong oleh pertumbuhan traffic data (Data Payload) sebesar 43,8%. Sementara itu, pendapatan dari bisnis Legacy mengalami penurunan sebesar 24,6% seiring dengan tren peralihan dari voice dan SMS menuju data, sehingga mengakibatkan pendapatan Telkomsel secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 4,4% Namun demikian, Telkomsel mampu meningkatkan EBITDA margin menjadi 58,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 54,0%. Segmen Mobile berkontribusi sebesar 61,5% terhadap Pendapatan konsolidasi Perusahaan.

       Pada segmen Consumer, IndiHome juga mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di layanan fixed broadband di Indonesia dengan menguasai 82,3% pangsa pasar. Jumlah pelanggan IndiHome bertambah sebesar 1,0 juta menjadi 8,0 juta pelanggan. Peningkatan jumlah pelanggan ini turut mendorong pertumbuhan pendapatan segmen Consumer yang tumbuh cukup tinggi sebesar 18,4% menjadi Rp21,0 triliun, dan memberikan kontribusi sebesar 15,4% terhadap Pendapatan Konsolidasian Perusahaan. Selain itu, profitabilitas IndiHome juga semakin baik dengan EBITDA margin mencapai 38,9%, meningkat signifikan menjadi 33,9% dibandingkan tahun lalu.

       Di segmen Enterprise, pada tahun 2020 kami melanjutkan kebijakan untuk memperkuat fundamental bisnis kami yaitu dengan fokus pada layanan yang memiliki margin lebih baik serta mengurangi produk dan layanan dengan margin relatif kecil, untuk lebih memastikan bisnis yang berkelanjutan dan pendapatan yang berkualitas. Meskipun segmen Enterprise mengalami penurunan sebesar 5,2% menjadi Rp17,7 triliun, namun segmen ini mengalami perbaikan yang signifikan pada paruh kedua tahun 2020. Segmen Enterprise memberikan kontribusi sebesar 13,0% terhadap Pendapatan Konsolidasian.

       Pada segmen Wholesale and International Business (“WIB”), melalui penyediaan infrastruktur dan layanan yang lengkap, kami melayani other licensed operator (OLO), service provider, dan digital player di dalam maupun di luar negeri. Segmen ini juga memegang peran yang vital yaitu sebagai enabler bagi segmen bisnis lain di TelkomGroup. Pada tahun 2020, Segmen WIB mencatatkan pendapatan sebesar Rp13,5 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 27,3% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar Rp10,6 triliun. Segmen ini memberikan kontribusi sebesar 9,9% terhadap Pendapatan Konsolidasian Telkom.

       Pada segmen Lain-lain yang terutama adalah layanan Digital, pada tahun 2020 Telkom melaporkan pertumbuhan sebesar 11,2%. Meskipun kontribusinya terhadap Pendapatan Konsolidasian masih relatif kecil, segmen ini menunjukkan inisiatif kami dalam pengembangan dan penyediaan beragam layanan digital baik untuk business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C). Ragam layanan digital yang kami kembangkan diantaranya di bidang finansial, pendidikan, logistik, kesehatan dan juga lifestyle seperti video, games, dan musik.

3.4  Pemetaan Konsep Manajemen Proses Bisnis PT Telkom Indonesia

Pemetaan proses adalah sebuah metodologi yang disusun melalui langkah dan tindakan berikut:

1.      Mengidentifikasi Proses

Secara konsisten, Telkom berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) untuk memenuhi tujuan berikut:

1)      Mendukung Purpose Telkom yaitu “Mewujudkan bangsa yang lebih sejahtera dan berdaya saing serta memberikan nilai tambah yang terbaik bagi para pemangku kepentingan.

2)      Mendukung visi Telkom yaitu “Menjadi Digital Telco Pilihan Utama untuk Memajukan Masyarakat.”

3)      Mendukung misi Telkom, yaitu mempercepat pembangunan Infrastruktur dan platform digital cerdas yang berkelanjutan, ekonomis, dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat; mengembangkan talenta digital unggulan yang membantu mendorong kemampuan digital dan tingkat adopsi digital bangsa; dan mengorkestrasi ekosistem digital untuk memberikan pengalaman digital pelanggan terbaik.

4)      Memberikan nilai tambah dan manfaat bagi para Pemegang Saham dan para pemangku kepentingan.

5)      Mempertahankan dan meningkatkan kelangsungan usaha yang sehat dan kompetitif dalam jangka panjang.

6)      Meningkatkan kepercayaan para Pemegang Saham dan Stakeholder kepada Telkom.

2.      Mengumpulkan Akses Informasi Dan Data Perusahaan Kepada Publik

            Telkom senantiasa menyediakan kemudahan akses informasi dan berupaya menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan melalui berbagai pendekatan dan media. Hal tersebut dijalankan juga untuk memenuhi Peraturan OJK No. 31/POJK.04/2015 tentang Keterbukaan Atas Informasi dan Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik. Hingga akhir periode pelaporan, Telkom telah melakukan pendekatan serta menyelenggarakan jalur komunikasi sebagai berikut :

1)      Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS yang dilaksanakan menjadi media bagi Telkom untuk menyampaikan informasi terkait kinerja Perusahaan kepada para Pemegang Saham. Dalam RUPS, para Pemegang Saham dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan strategis demi kemajuan

Perusahaan.

2)      Media

Sepanjang tahun 2020, Telkom membuat news release dan mengirimkan kepada media massa dalam rangka menyebarluaskan informasi Perusahaan kepada para Stakeholder.

3)      Website

Telkom menyediakan website yang tersedia dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris dengan laman www.telkom.co.id. Para pemangku kepentingan dapat memperoleh informasi terkini mengenai profil, praktik Good Corporate Governance, pelaksanaan program CSR, peluang kerja dan pengembangan karir, serta produk Telkom. Laporan yang dapat diakses melalui laman tersebut antara lain laporan tahunan, laporan keuangan, dan laporan lain kepada para pemangku kepentingan.

4)      Pertemuan dengan Analis dan Investor

Telkom senantiasa melakukan pertemuan baik dengan analis maupun investor. Pertemuan ini sebagai sarana Telkom untuk memberikan informasi mengenai kinerja maupun prospek Perusahaan sekaligus memberikan informasi terkini mengenai industri telekomunikasi secara umum. Di masa pandemi seperti ini pertemuan dengan analis maupun investor dilakukan secara online.

5)      Kontak Via E-Mail

Fasilitas kontak Perusahaan yang dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan yaitu melalui website Telkom dam e-mail. Khusus pelanggan dapat menggunakan alamat e-mail customercare@telkom.co.id, adapun e-mail untuk jalur komunikasi investor yaitu investor@telkom.co.id.

6)      Media Internal

Telkom memiliki media internal yaitu buletin Intra Telkom sebagai media sarana informasi, edukasi, dan sosialisasi kepada seluruh karyawan.

7)      Media Sosial

Sesuai dengan semakin berkembangnya era digital, Telkom menggunakan beragam media sosial yang dapat menjangkau para pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Selain itu jalur komunikasi ini juga memudahkan Perusahaan untuk berkomunikasi dengan generasi milenial.

3.      Kinerja Perusahaan Tahun 2020

Kinerja Perusahaan Tahun 2020

Pada tahun 2020, Telkom membukukan total Pendapatan sebesar Rp136,5 triliun atau tumbuh sebesar 0,7% dibandingkan tahun 2019. Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatatkan EBITDA sebesar Rp72,1 triliun atau tumbuh sebesar 11,2% dan Laba Bersih sebesar Rp20,8 triliun, atau tumbuh sebesar 11,5% dibandingkan tahun 2019. Kinerja Pendapatan yang tumbuh positif dengan tingkat profitabilitas yang baik ini kami lalui di tengah situasi pandemi COVID-19 serta persaingan bisnis yang ketat di industri telekomunikasi.

Di segmen Mobile, Telkom melalui entitas anak Telkomsel, mampu mempertahankan posisi sebagai operator seluler terbesar di Indonesia dengan cakupan nasional yang melayani 169,5 juta pelanggan, dimana 115,9 juta diantaranya merupakan pengguna mobile data. Pendapatan Digital Business Telkomsel tumbuh cukup baik sebesar 7% YoY menjadi Rp62,34 triliun, yang didorong oleh semakin tingginya kebutuhan layanan data masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Kontribusi pendapatan dari Digital Business telah meningkat menjadi 71,6% dari total pendapatan Telkomsel, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 63,9%. Pertumbuhan Digital Business ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan Data sebesar 8,3% yang didorong oleh pertumbuhan traffic data (Data Payload) sebesar 43,8%. Sementara itu, pendapatan dari bisnis Legacy mengalami penurunan sebesar 24,6% seiring dengan tren peralihan dari voice dan SMS menuju data, sehingga mengakibatkan pendapatan Telkomsel secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 4,4% Namun demikian, Telkomsel mampu meningkatkan EBITDA margin menjadi 58,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 54,0%. Segmen Mobile berkontribusi sebesar 61,5% terhadap Pendapatan konsolidasi Perusahaan.

Pada segmen Consumer, IndiHome juga mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di layanan fixed broadband di Indonesia dengan menguasai 82,3% pangsa pasar. Jumlah pelanggan IndiHome bertambah sebesar 1,0 juta menjadi 8,0 juta pelanggan. Peningkatan jumlah pelanggan ini turut mendorong pertumbuhan pendapatan segmen Consumer yang tumbuh cukup tinggi sebesar 18,4% menjadi Rp21,0 triliun, dan memberikan kontribusi sebesar 15,4% terhadap Pendapatan Konsolidasian Perusahaan. Selain itu, profitabilitas IndiHome juga semakin baik dengan EBITDA margin mencapai 38,9%, meningkat signifikan menjadi 33,9% dibandingkan tahun lalu.

Di segmen Enterprise, pada tahun 2020 kami melanjutkan kebijakan untuk memperkuat fundamental bisnis kami yaitu dengan fokus pada layanan yang memiliki margin lebih baik serta mengurangi produk dan layanan dengan margin relatif kecil, untuk lebih memastikan bisnis yang berkelanjutan dan pendapatan yang berkualitas. Meskipun segmen Enterprise mengalami penurunan sebesar 5,2% menjadi Rp17,7 triliun, namun segmen ini mengalami perbaikan yang signifikan pada paruh kedua tahun 2020. Segmen Enterprise memberikan kontribusi sebesar 13,0% terhadap Pendapatan Konsolidasian.

Pada segmen Wholesale and International Business (“WIB”), melalui penyediaan infrastruktur dan layanan yang lengkap, kami melayani other licensed operator (OLO), service provider, dan digital player di dalam maupun di luar negeri. Segmen ini juga memegang peran yang vital yaitu sebagai enabler bagi segmen bisnis lain di TelkomGroup. Pada tahun 2020, Segmen WIB mencatatkan pendapatan sebesar Rp13,5 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 27,3% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar Rp10,6 triliun. Segmen ini memberikan kontribusi sebesar 9,9% terhadap Pendapatan Konsolidasian Telkom.

Pada segmen Lain-lain yang terutama adalah layanan Digital, pada tahun 2020 Telkom melaporkan pertumbuhan sebesar 11,2%. Meskipun kontribusinya terhadap Pendapatan Konsolidasian masih relatif kecil, segmen ini menunjukkan inisiatif kami dalam pengembangan dan penyediaan beragam layanan digital baik untuk business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C). Ragam layanan digital yang kami kembangkan diantaranya di bidang finansial, pendidikan, logistik, kesehatan dan juga lifestyle seperti video, games, dan musik.

 

3.5  Kebijakan Self Assessment

1)      Dewan Komisaris

        Berdasarkan Peraturan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi No. 08/KEP/DK/2020 dan PD.620.00/r.00/HK200/ COP-M4000000/2020 tentang Panduan Tata Kerja Dewan Komisaris dan Direksi (Board Manual) Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Dewan Komisaris memiliki kebijakan self assessment untuk menilai kinerja Dewan Komisaris. Kebijakan tersebut merupakan suatu pedoman yang digunakan sebagai bentuk akuntabilitas atas penilaian kinerja Dewan Komisaris secara kolegial. Self assessment tersebut dilakukan oleh masing-masing anggota Dewan Komisaris untuk menilai kinerja Dewan Komisaris secara kolegial dan bukan menilai kinerja individual masing- masing anggota Dewan Komisaris. Dengan adanya self assessment ini diharapkan masing-masing anggota Dewan Komisaris dapat berkontribusi untuk memperbaiki kinerja Dewan Komisaris secara berkesinambungan. Keterangan lebih lengkap mengenai kebijakan self assessment Dewan Komisaris dapat dilihat melalui Board Manual Telkom yang dapat diakses melalui menu GCG di website Telkom.

2)      Direksi

        Berdasarkan Peraturan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi No. 08/KEP/DK/2020 dan PD.620.00/r.00/HK200/ COP-M4000000/2020 tentang Panduan Tata Kerja Dewan Komisaris dan Direksi (Board Manual) Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Direksi memiliki kebijakan self assessment untuk menilai kinerja Direksi. Kebijakan tersebut merupakan suatu pedoman yang digunakan sebagai bentuk akuntabilitas atas penilaian kinerja Direksi secara kolegial. Self assessment tersebut dilakukan oleh masing-masing anggota Direksi untuk menilai kinerja Direksi secara kolegial dan bukan menilai kinerja individual masing-masing anggota Direksi. Dengan adanya self assessment ini diharapkan masing-masing anggota Direksi dapat berkontribusi untuk memperbaiki kinerja Direksi secara berkesinambungan. Keterangan lebih lengkap mengenai kebijakan self assessment Direksi dapat dilihat melalui Board Manual Telkom yang dapat diakses melalui menu GCG di website Telkom.


 

4.      KESIMPULAN

            Telkom menerjemahkan kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital platform dan digital services. Pada program dan sasaran kinerja tahun 2020, perseroan melanjutkan komitmen untuk terus dapat tumbuh secara sehat dengan tingkat profitabilitas yang baik sejalan dengan penguatan kapabilitas digital perusahaan. Sebagai kesinambungan tahun sebelumnya, pada tahun 2020 Perseroan mencanangkan 3 program utama, yaitu: Deliver best quality of digital connectivity services with improved customer experience, Develop digital talent and establish digital platform business by leveraging group collaboration & synergy, and Drive portfolio optimization along with cost leadership and lean organization.

            Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk tahun 2020 membukukan total pendapatan sebesar Rp136,5 triliun atau tumbuh sebesar 0,7% dibandingkan tahun 2019. Dari sisi profitabilitas, PT Telkom mencatatkan EBITDA sebesar Rp72,1 triliun atau tumbuh sebesar 11,2% dan Laba Bersih sebesar Rp20,8 triliun, atau tumbuh sebesar 11,5% dibandingkan tahun 2019. Kinerja pendapatan yang tumbuh positif dengan tingkat profitabilitas yang baik ini kami lalui di tengah situasi pandemi COVID-19 serta persaingan bisnis yang ketat di industri telekomunikasi.

            Self assessment tersebut dilakukan oleh masing-masing anggota Dewan Komisaris untuk menilai kinerja Dewan Komisaris secara kolegial dan bukan menilai kinerja individual masing- masing anggota Dewan Komisaris. Dengan adanya self assessment ini diharapkan masing-masing anggota Dewan Komisaris dapat berkontribusi untuk memperbaiki kinerja Dewan Komisaris secara berkesinambungan. Keterangan lebih lengkap mengenai kebijakan self assessment Dewan Komisaris dapat dilihat melalui Board Manual Telkom yang dapat diakses melalui menu GCG di website Telkom.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ariyani, W. (t.thn.). MANAJEMEN PROSES BISNIS. Dipetik Agustus 2021, dari qdoc.tips: https://qdoc.tips/manajemen-proses-bisnis-pdf-free.html

PT Telkom Indonesia Tbk. (2020). Laporan Keuangan PT Telkom Indonesia Tbk Tahun 2020. Dipetik September 2021, dari www.telkom.co.id: https://www.telkom.co.id/data/lampiran/1619904911437_AR%20Telkom%202020%20INDO%20-%201%20Mei_web-compressed.pdf

PT Telkom Indonesia Tbk. (2019). Laporan Keuangan PT Telkom Indonesia Tbk Tahun 2019. Dipetik September 2021, dari www.telkom.co.id: https://www.telkom.co.id/data/lampiran/1591447852142_AR%20Telkom%202019_INDO_FINAL.pdf

Putra, Y. M., (2021). Pemetaan Konsep Manajemen Proses Bisnis. Modul Kuliah Manajemen Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas Mercu Buana.

Haryono, A., & Rimawan, E. Improvement of Business Process Modeling in Small and Medium Industries (Smis) to Sustain in Global Economic Competition. Operations Excellence9(1), 34-43.

Nusraningrum, D., Jaswati, J., & Thamrin, H. (2020). The Quality of IT Project Management: The Business Process and The Go Project Lean Aplication. Manajemen Bisnis10(1), 10-23.

Purba, H.H., Aristiara, N., & Muda, I. (2018). Implementation of Business Process Improvement to Reduce Wastes: A Case Study in Grand Piano Assembly Process. Journal of Scientific and Engineering Research5(5), 511-527.

 

 


 

 

Komentar