ANALISIS IMPLEMENTASI KONSEP SIX SIGMA DALAM MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA PT TELKOM INDONESIA TBK

 

ANALISIS IMPLEMENTASI KONSEP SIX SIGMA

DALAM MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA  

PT TELKOM INDONESIA TBK

Artika Priananda, Ichsan Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu P, Riski Serina Safitri

Manajemen Proses Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana

Jl. Meruya Selatan No.31, Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816

 

 

Abstrak

 

Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya.

 

Salah satu produk dari PT Telkom Indonesia Tbk adalah Idihome. IndiHome merupakan salah satu wujud komitmen Telkom dalam mendukung terciptanya digital lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. PT Telkom Indonesia percaya kebutuhan akan layanan fixed broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk mendukung beragam kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha.

 

 

 

Kata Kunci: Six Sigma, PT Telkom Indonesia Tbk

 


 


1.      PENDAHULUAN

            Dalam upaya peningkatan kualitas produk maupun pelayanan, perusahaan perlu mengukur tingkat kualitas dari waktu ke waktu, salah satu dengan menerapkan metoda Six Sigma. Six sigma juga disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis.  Six Sigma disebut strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).

            Salah satu produk dari PT Telkom Indonesia Tbk adalah Idihome. IndiHome merupakan salah satu wujud komitmen Telkom dalam mendukung terciptanya digital lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kami percaya kebutuhan akan layanan fixed broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk mendukung beragam kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha. Penetrasi layanan fixed broadband di Indonesia yang masih relatif rendah sekitar 15% memberikan peluang bagi IndiHome untuk dapat terus melanjutkan momentum pertumbuhan di waktu mendatang.

            Telkom menerjemahkan kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital platform dan digital services. Strategi domain bisnis tersebut didukung oleh strategi value delivery model yang mencakup strategi optimalisasi portofolio, teknologi, organisasi, sinergi dan keunggulan operasional, pengelolaan talenta dan budaya perusahaan, inisiatif inorganik, serta tata kelola perusahaan.

            PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”. Dalam upaya bertransformasi menjadi digital telecommunication company, TelkomGroup mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi TelkomGroup menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.

 

2.      LITERATUR TEORI

2.1  Definisi Six-Sigma

      Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya.

2.2  Konsep Six-Sigma

        Six sigma juga disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis.  Six Sigma disebut strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).

        Terdiri dari metode-metode yang mengintegrasikan prinsip-prinsip bisnis, statistik, dan teknik untuk mencapai hasil yang nyata. Untuk membandingkan dua atau lebih proses yang berbeda dan ingin mengetahui mana yang lebih bagus kinerjanya. Memiliki tujuan untuk mentrasformasikan: menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan menekan biaya.

2.3  Siklus Six-Sigma

      Metode yang digunakan General Electric dan beberapa organisasi lain untuk meningkatkan proses (termasuk didalamny proses produksi ) diringkas dengan inisial DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).

Fase Menentukan Masalah (Define)

·         Define adalah fase menentukan masalah, menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, dan membangun tim.

·         Fase ini tidak banyak menggunakan statistik, alat-alat (tools) statistik yang sering dipakai pada fase ini adalah diagram sebab-akibat (Cause and Effect Chart) dan Diagram Pareto (Pareto Chart).

Kedua alat (tool) statistik tersebut digunakan untuk melakukan identifikasi masalah dan menentukan prioritas permasalahan.

 

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menentukan masalah:

·         Spesifik, menjelaskan secara tepat apa yang salah, bagian proses mana yang salah dan apa salahnya.

·         Dapat diamati, menjelaskan bukti-bukti nyata suatu masalah. bukti-bukti tersebut dapat diperoleh baik melalui laporan internal maupun umpan balik pelanggan.

·         Dapat diukur, menunjukkan lingkup masalah dalam suatu ukuran.

·         Dapat dikendalikan, masalah harus dapat diselesaikan dalam rentang waktu tertentu. Apabila masalah terlalu besar maka dapat dipecah-pecah sehingga dapat lebih dikendalikan.

 

Fase Pengukuran (Measure)

      Fase mengukur tingkat kinerja saat ini, sebelum mengukur tingkat kinerja biasanya terlebih dahulu melakukan analisis terhadap sistem pengukuran yang digunakan

 

Fase Analisis (Analyze)

      Fase analisis (analyze) merupakan fase mencari dan menentukan akar atau penyebab dari suatu masalah. Masalah-masalah yang timbul kadang-kadang sangat kompleks sehingga membingungkan antara mana yang akan dan tidak kita selesaikan. Tahapan fase ini, sering diistilahkan PDCIA.

      PDCA atau yang sering disebut juga dengan Deming Circle/Deming Cycle/Wheel, Shewhart Cycle, control circle/cycle, dan Plan Do Study Act (PDSA) adalah sebuah metode manajemen empat langkah iteratif yang digunakan pada proses bisnis untuk kontrol dan peningkatan berkelanjutan dari proses dan produk.

 

Keempat fase yang terdapat pada PDCA adalah :

Plan : mengidentifikasi dan menganalisis masalah

      Pada tahap ini Anda dapat menggunakan beberapa tools yang berguna seperti Drill Down, Cause and Effect Diagram, dan 5 Whys untuk membantu Anda menemukan akan dari permasalahan. Setelah Anda berhasil mengidentifikasi, Anda dapat memetakan proses tersebut. Selanjutnya Anda dapat menggambarkan semua informasi lain yang diperlukan untuk membantu Anda dalam mengeluarkan solusi.

 

Do : mengembangkan dan menguji solusi yang berpotensi

      Fase ini memiliki beberapa aktifitas diantaranya :

·         Mengeluarkan solusi yang memungkinkan

·         Memilih solusi terbaik. (dapat menggunakan teknik Impact Analysis)

·         Mengimplementasikan solusi sementara pada contoh kasus berskala kecil terlebih dahulu (trial). Pada tahap ini, tindakan Anda belum terimplementasi

 

Check : mengukur seberapa efektif pengujian solusi sebelumnya dan menganalisis apakah langkah tersebut dapat ditingkatkan. Pada fasa ini Anda akan mengukur seberapa efektif solusi sementara yang telah Anda buat, lalu Anda dapat mengumpulkan informasi dari segala pihak yang terkait untuk bersama-sama membuat agar solusi tersebut lebih baik lagi.

      Jika masih belum terlihat hasil yang jelas, Anda dapat mencoba untuk mengulangi tahap Do untuk kembali melakukan Check ulang. Setelah Anda puas dengan apa yang telah Anda capai, maka Anda dapat melaju ke tahap berikutnya (final).

 

Act : mengimplementasikan solusi yang telah ditingkatkan secara menyeluruh

      Sekarang Anda dapat mengimplementasikan solusi Anda secara menyeluruh. Namun kegunaan PDCA tidak hanya sampai disini saja. Jika Anda menggunakan PDCA sebagai bentuk inisiasi dari peningkatan berkelanjutan, maka Anda dapat mengulangi siklus ini dengan kembali pada tahap awal (Plan) dan mengulang semua tahap ini secara berurutan agar sistem Anda mencapai kestabilan dan mengalami peningkatan secara terus menerus.

      Lalu pada kondisi apakah PDCA sebaiknya digunakan? PDCA memberikan sebuah problem solving yang terkontrol untuk suatu proses dengan nilai guna yang tinggi. Berikut kami jabarkan kondisi yang paling efektif untuk melakukan PDCA :

      Saat mengimplementasikan Kaizen atau pendekatan pengembangan berkelanjutan. Ketika cycle PDCA dilakukan, akan terjadi berbagai improvement pada area yang dilaluinya sekaligus menyelesaikan masalah yang ada

      Ketika mengidentifikasi solusi dan improvement baru untuk sebuah proses yang dilakukan secara berulang-ulang. Pada situasi ini Anda akan mendapat benefit dari peningkatan extra yang ditanamkan pada proses dengan implementasi yang dilakukan berkali-kali.

      Dalam mengeksplorasi range dari solusi baru yang memungkinkan untuk memecahkan masalah dan menguji sekaligus meningkatkan solusi tersebut dengan implementasi kontrol yang lebih baik Menghindari pemborosan sumber daya dalam jumlah besar yang dapat terjadi jika implementasi dilakukan tanpa pengujian terlebih dahulu.

      Jelas sekali menggunakan PDCA adalah suatu pendekatan yang lebih lambat daripada melakukan implementasi straightforward dari gung ho. Dalam keadaan emergency tentu Anda tidak perlu lagi melakukan tindakan ini. Namun, Anda akan mendapat keuntungan yang lebih besar jika menerapkan PDCA pada timing atau waktu yang tepat khususnya untuk peningkatan yang berkesinambungan seperti yang telah kami jabarkan di atas.

 

Fase Pengembangan (Improve)

·         Pengembangan (Improve) adalah fase meningkatkan proses(x) dan menghilangkan sebab-sebab cacat

·         Pada fase pengukuran (measure) telah dinetapkan variabel faktor (x) dan untuk masing-masing variabel respons(y).

·         Sedangkan pada fase pengembangan (improve) banyak melibatkan uji perancangan percobaan ( Design of Experiment ) atau disingkat DoE.

·         DoE merupakan suatu pengujian dengan mengubah variabel faktor sehingga penyebab perubahan pada variabel respon diketahui.

 

Fase Pengendalian (Control)

      Hal yang terpenting dalam melakukan Six Sigma terletak pada fase ini, CONTROL. Mempertahankan kemenangan memang lebih susah ketika kita mendapatkannya. Tujuan dari fase ini adalah memastikan implementasi menyeluruh dapat berjalan baik, sustainable (berke-sinambungan). Fase Control ini juga menjadi akhir dari keterlibatan aktif Tim dalam proyek. Pengendalian (Control) adalah fase mengendalikan kinerja proses (x) dan menjamin cacat tidak muncul kembali

 

Alat (tool) yang umum digunakan adalah diagram kontrol (Control chart):

·         Membantu mengurangi variabilitas.

·         Memonitor kinerja setiap saat.

·         Memungkinkan proses koreksi untuk mencegah penolakan.

 

Desain Kekuatan Proses dan Peningkatan Proses Kinerja

Design For Six Sigma (DFSS)

      Design For Six Sigma (DFSS) adalah sebuah metodologi manajemen bisnis proses yang berhubungan dengan Six Sigma tradisional. DFSS memiliki tujuan untuk menentukan kebutuhan dari customer dan bisnis serta mengarahkan kebutuhan tersebut ke dalam produk sehingga terciptalah suatu solusi. Selain itu DFSS juga cukup relevan dengan fase sintesis dari sistem atau produk yang kompleks, khususnya dalam konteks pengembangan sistem yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

      DFSS ini juga terkadang sering disamakan dengan DMADV (Define Measure Analyze Design Verify). Berbeda dengan DMAIC (Define Analyze Improve Control) Six Sigma tradisional, DFSS atau DMADV berjuang untuk menghasilkan sebuah proses yang sebelumnya tidak ada atau ketika suatu proses yang sudah ada dianggap tidak memadai dan harus diganti. DFSS menargetkan untuk membuat sebuah proses yang mengoptimalkan terciptanya sebuah efisiensi dengan metode Six Sigma ke dalam proses sebelum implementasi , tidak seperti Six Sigma tradisional yang melakukan improvement berkelanjutan setelah proses tersebut terjadi.

 

Lalu bagaimana urutan yang tepat agar DFSS dapat terlaksana dengan baik?

1.      New product introduction, mencakup pemilihan dari konsep bisnis untuk memenuhi kebutuhan baru.

2.      Define, permulaan dari project DFSS secara nyata.

3.      Customer, tahap dimana customer telah diidentifikasi secara maksimal dan kebutuhan mereka telah dianalisa.

4.      Concept, tim mengambil konsep yang disediakan oleh bisnis untuk produk atau service baru dan memulai untuk menyempurnakan konsep untuk ‘paper design’ yang digunakan.

5.      Design, tim menyerahkan desain mentah dan para desainer menyempurnakan pekerjaan tersebut menggunakan semua CTP sebagai petunjuk dan evaluator untuk memastikan desain tersebut sempurna

6.      Implement, mencakup piloting dan refining

7.      Handover, setelah diimplementasikan secara penuh, maka produk atau service dan proses pendukung dapat diserahkan kepada pemilik proses yang baru.

      Sangat penting untuk menjaga siklus hidup secara keseluruhan dari suatu produk maupun service yang baru. Hal ini dimulai ketika suatu organisasi telah secara resmi menyetujui requirement untuk sesuatu yang baru dan berakhir ketika produk maupun service tersebut telah pindah ke tangan customer.

 

3.      PEMBAHASAN

3.1  Segmen Mobile


     Terkait layanan mobile digital, Telkomsel mengeksplorasi banyak peluang dalam inisiatif digital baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan guna melengkapi konektivitas jaringan. Layanan mobile digital semakin diperkaya melalui inisiatif yang terkait dengan beragam konten video, musik, game, dan fintech yang pada akhirnya akan memperkaya ekosistem digital pelanggan. Telkomsel memperkuat posisi MAXstream dalam industri streaming video dengan tambahan HBO Go dan Disney+ untuk melengkapi konten video. Bagi pecinta musik dan game, Telkomsel menyediakan layanan streaming LangitMusik dan Telkomsel Dunia Games, yang menyediakan ekosistem game lengkap yang menggabungkan media content, distribusi, fasilitas pembayaran, e-sport, dan game publishing. Kami meluncurkan game online dan mulai mengembangkan komunitas game untuk memperluas pengalaman pelanggan. Di tahun 2020 ini kami telah merilis game ketiga yaitu Rise of Nowlin, game keempat yaitu Kolak Express 3, dan game kelima yaitu Three Kingdoms: Quest of Infinity. Selain layanan entertainment, TelkomGroup menyediakan electronic money service LinkAja yang dikelola oleh anak usahanya yaitu PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Sebagai alat pembayaran, LinkAja telah berkolaborasi dengan berbagai mitra seperti taksi, pom bensin, gerai makanan dan minuman, serta pembayaran tol dan pajak.

     Untuk memperkuat layanan mobile digital di masa depan, Telkomsel melakukan strategic investment kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) pada bulan November 2020. Telkomsel percaya kolaborasi dengan Gojek dapat memberikan layanan dan solusi yang lebih baik kepada masyarakat dalam membangun ekosistem digital. Dengan kolaborasi ini, Telkomsel diharapkan dapat membuka nilai sinergi bagi kedua belah pihak terutama melalui integrasi platform-apps, diversifikasi penawaran produk, meningkatkan trafik dan pendapatan data, memperluas pangsa pasar dan mengurangi churn pelanggan. Selain dengan pihak eksternal, sinergi internal juga terus dikembangkan di antaranya sinergi Telkomsel dan IndiHome agar dapat saling mengisi celah pasar.

     Demi memperkokoh posisi Telkom sebagai leader penyediaan jaringan, pada tahun 2020 Telkom menambah 18,9 ribu BTS baru untuk mendukung layanan 4G/LTE di berbagai kota dan berhasil mengakuisisi 18,3 juta tambahan pelanggan 4G/LTE. Sampai akhir Desember 2020, Telkom memiliki total 107,5 ribu BTS 4G dengan jangkauan mencakup lebih dari 90% di seluruh Indonesia.


 

3.2  Segmen Consumer

       Pada segmen Consumer, IndiHome juga mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di layanan fixed broadband di Indonesia dengan menguasai 82,3% pangsa pasar. Jumlah pelanggan IndiHome bertambah sebesar 1,0 juta menjadi 8,0 juta pelanggan. Peningkatan jumlah pelanggan ini turut mendorong pertumbuhan pendapatan segmen Consumer yang tumbuh cukup tinggi sebesar 18,4% menjadi Rp21,0 triliun, dan memberikan kontribusi sebesar 15,4% terhadap Pendapatan Konsolidasian Perusahaan. Selain itu, profitabilitas IndiHome juga semakin baik dengan EBITDA margin mencapai 38,9%, meningkat signifikan menjadi 33,9% dibandingkan tahun lalu.

 

3.3  Segmen Enterprise

Di segmen Enterprise, pada tahun 2020 kami melanjutkan kebijakan untuk memperkuat fundamental bisnis kami yaitu dengan fokus pada layanan yang memiliki margin lebih baik serta mengurangi produk dan layanan dengan margin relatif kecil, untuk lebih memastikan bisnis yang berkelanjutan dan pendapatan yang berkualitas. Meskipun segmen Enterprise mengalami penurunan sebesar 5,2% menjadi Rp17,7 triliun, namun segmen ini mengalami perbaikan yang signifikan pada paruh kedua tahun 2020. Segmen Enterprise memberikan kontribusi sebesar 13,0% terhadap Pendapatan Konsolidasian.

 

3.4  Segmen Wholesale and International Business

       Pada segmen Wholesale and International Business (“WIB”), melalui penyediaan infrastruktur dan layanan yang lengkap, kami melayani other licensed operator (OLO), service provider, dan digital player di dalam maupun di luar negeri. Segmen ini juga memegang peran yang vital yaitu sebagai enabler bagi segmen bisnis lain di TelkomGroup. Pada tahun 2020, Segmen WIB mencatatkan pendapatan sebesar Rp13,5 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 27,3% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar Rp10,6 triliun. Segmen ini memberikan kontribusi sebesar 9,9% terhadap Pendapatan Konsolidasian Telkom.

3.5  Segmen lain-lain

       Pada segmen Lain-lain yang terutama adalah layanan Digital, pada tahun 2020 Telkom melaporkan pertumbuhan sebesar 11,2%. Meskipun kontribusinya terhadap Pendapatan Konsolidasian masih relatif kecil, segmen ini menunjukkan inisiatif kami dalam pengembangan dan penyediaan beragam layanan digital baik untuk business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C). Ragam layanan digital yang kami kembangkan diantaranya di bidang finansial, pendidikan, logistik, kesehatan dan juga lifestyle seperti video, games, dan musik.


 

4.      KESIMPULAN

            Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya.

            Six Sigma disebut strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Salah satu produk dari PT Telkom Indonesia Tbk adalah Idihome. IndiHome merupakan salah satu wujud komitmen Telkom dalam mendukung terciptanya digital lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. PT Telkom Indonesia percaya kebutuhan akan layanan fixed broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk mendukung beragam kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rahmalia, N. (2021, Februari 26). Rancang Proses Bisnis yang Efektif dan Efisien dengan Six Sigma. Dipetik September 2021, dari glints.com: https://glints.com/id/lowongan/six-sigma/

Apa itu Six Sigma, dan Bagaimanaca Cara Penerapannya? (t.thn.). Dipetik September 2021, dari manajemenproduksi.com: https://manajemenproduksi.com/apa-itu-six-sigma-dan-bagaimanaca-cara-penerapannya/

Putra, Y. M., (2021). Definisi Konseptual Manajemen Proses Bisnis. Modul Kuliah Manajemen Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas Mercu Buana.

Nugroho, A., & Kusumah, L.H. (2021). Analisis Pelaksanaan Quality Control untuk Mengurangi Defect Produk di Perusahaan Pengolahan Daging Sapi Wagyu dengan Pendekatan Six Sigma. Jurnal Manajemen Teknologi 20 (1), 56-78.

Syafrimaini, & Husin, A.E. (2021). Implementation of Lean Six Sigma Method in High-Rise Residential Building Projects. Civil Engineering and Architecture 9 (4), 1228-1236.

Pujangga, G. A. (2018). Penerapan Metode Six Sigma Sebagai Upaya Pengendalian Kualitas Produk dengan Menggunakan Konsep DMAIC. Ratih: Jurnal Rekayasa Teknologi Industri Hijau, 1(2), 10.

Tampubolon, S., & Purba, H. H. (2021) Lean Six Sigma Implementation, A Systematic Literature Review. International Journal of Production Management and Engineering 9 (2), 125-139.

Saryanto, S., Purba, H., & Trimarjoko, A. (2020). Improve quality remanufacturing welding and machining process in Indonesia using six sigma methods. J. Eur. SystèMes Autom53, 377-384.

 

 

LINK:

 

https://artikapriananda.blogspot.com/2021/09/analisis-implementasi-konsep-six-sigma.html

 

 

 

 

 

 

Komentar